Geopolitik mengajarkan pengetahuan dan kajian tentang konstelasi geografis yang berkaitan dengan perjuangan kepentingan nasional suatu bangsa. Bung Karno mengajarkan bagaimana kepentingan nasional itu muncul dari pemahaman aspek historis, geografis,

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak mahasiswa dan generasi Z mendalami pemikiran geopolitik Soekarno untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan memahami posisi Indonesia dalam percaturan global.

"Geopolitik mengajarkan pengetahuan dan kajian tentang konstelasi geografis yang berkaitan dengan perjuangan kepentingan nasional suatu bangsa. Bung Karno mengajarkan bagaimana kepentingan nasional itu muncul dari pemahaman aspek historis, geografis, geostrategis, dan geoekonomi kita," kata Hasto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Hal tersebut disampaikan Hasto dalam Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Generasi Z bertajuk "Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia" di Aula Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu.

Hasto mengatakan pemikiran geopolitik Soekarno tidak memisahkan realitas sosial masyarakat dari dinamika politik internasional. Karena itu, generasi muda perlu memiliki wawasan menyeluruh yang menghubungkan kondisi masyarakat, kepentingan nasional, dan perkembangan global.

"Ketika mahasiswa bertemu dengan rakyat dan melihat dinamika kehidupan rakyat, hal itu tidak terlepas dari pandangan kebangsaan, wawasan global, serta perspektif historisnya," kata Hasto.

Baca juga: Hasto usulkan Prabowo gunakan geopolitik Soekarno atasi konflik global

Ia menjelaskan Soekarno memandang wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang hingga Merauke bukan sekadar batas administratif negara, melainkan satu kesatuan cita-cita untuk membangun kekuatan nasional.

Visi tersebut, menurut Hasto, menempatkan Indonesia sebagai kekuatan maritim di Samudra Hindia yang mampu memandang masa depan peradaban di kawasan Pasifik.

"Mengapa Bung Karno menyebut dari Sabang sampai Merauke bukan hanya satu national state, tetapi juga satu kesatuan cita-cita? Yakni visi menjadi negara terbesar di Samudra Hindia yang menatap masa depan di Pasifik, serta mengapa ilmu pengetahuan menjadi instrumen penting agar kita bisa menjadi bangsa pemimpin? Itulah pentingnya literasi geopolitik ini," tuturnya.

Hasto mencontohkan keberhasilan diplomasi pada masa pemerintahan Soekarno yang memanfaatkan berbagai instrumen kekuatan nasional untuk mendorong pengakhiran kolonialisme di dunia.

Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok (GNB), Conference of the New Emerging Forces (Conefo), dan Ganefo.

Baca juga: PDIP minta BRIN-universitas kaji Pola Pembangunan Semesta Soekarno

Menurut dia, berbagai pengalaman sejarah tersebut penting dipelajari generasi muda untuk memahami hubungan antara kepentingan nasional, kekuatan diplomasi, dan perkembangan geopolitik dunia.

Hasto berharap pelatihan di UBK yang melibatkan akademisi dan tokoh sejarah, seperti Andi Widjajanto, Margaretha Hanita, dan Bonnie Triyana, dapat memperkuat kesadaran geopolitik generasi Z.

"Pelajari pemikiran geopolitik Bung Karno, maka Anda akan punya arah masa depan," katanya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Soekarno Rommy Soekarno, jajaran dekanat, dosen, serta perwakilan mahasiswa UBK, yakni Kurnia Aryasatya dan Chrisostomos Inuhan, yang bertindak sebagai penanggap.

Baca juga: Hasto kupas filosofi Konferensi Dokter Anak gagasan Bung Karno

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Fianda Sjofjan Rassat

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira