Jakarta (ANTARA) - Universitas Indonesia (UI) dan Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja (ILUNI MKK) merencanakan studi mengenai dampak kesehatan lanjutan pada pekerja dan masyarakat pascakebakaran hutan dan lahan sebagai upaya memperkuat dasar ilmiah bagi perlindungan kesehatan yang berkelanjutan.
Dekan Fakultas Kedokteran UI Anna Rozaliyani mengatakan di Jakarta, Sabtu, bahwa kesehatan manusia harus menjadi bagian integral dari upaya perlindungan lingkungan dan penanganan karhutla. Menurutnya, karhutla memerlukan respons yang kolaboratif dari berbagai pihak agar pengetahuan ilmiah dapat diterjemahkan menjadi langkah perlindungan yang nyata.
“Ini adalah persoalan kesehatan, keselamatan, dan masa depan generasi kita. Kita tidak boleh hanya bereaksi ketika bencana terjadi. Pencegahan paparan, pengenalan risiko kesehatan sejak dini, dan tindak lanjut yang tepat harus diperkuat dengan bukti ilmiah dan kolaborasi lintas disiplin,” ujarnya.
Studi ini direncanakan menilai kondisi kesehatan dalam rentang satu hingga tiga bulan setelah kejadian, dengan fokus pada gejala sisa saluran pernapasan dan keluhan kesehatan lain yang relevan dengan paparan.
Penelitian akan dikoordinasikan melalui Klaster Occupational & Environmental Health, IMERI FKUI, dan Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI. Hasilnya diharapkan mendukung pengembangan edukasi, skrining, dan pemantauan kesehatan berdasarkan kebutuhan kelompok terdampak.
Rentang pengamatan tersebut merupakan fokus studi yang direncanakan dan tidak dengan sendirinya mewakili seluruh dampak kesehatan jangka panjang.
Melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, pihaknya berkomitmen memperkuat kontribusi ilmu kedokteran bagi kesehatan masyarakat Indonesia serta mendorong upaya pencegahan dan penanganan dampak kesehatan karhutla yang terpadu dan berkelanjutan.
Dalam keterangan yang sama, Dalam paparannya, anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Nastiti Kaswandani memaparkan bahwa dampak paparan asap karhutla tidak berhenti pada gangguan pernapasan akut.
"Anak-anak yang terpapar secara kronik berisiko mengalami gangguan pertumbuhan paru yang bersifat permanen, peningkatan risiko asma persisten dan penyakit paru obstruktif kronis, yang berujung pada stunting, hingga potensi gangguan perkembangan otak dan kognitif," katanya.
Dia juga mengingatkan bahwa gangguan pertumbuhan paru di masa kecil dapat terbawa seumur hidup atau permanen. Studi pada kebakaran Indonesia tahun 1997 menunjukkan kapasitas paru yang lebih rendah hingga 10 tahun kemudian, serta meningkatnya risiko asma persisten dan PPOK.
Paparan sejak dalam kandungan juga berdampak pada pertumbuhan anak, dengan efek yang bertahan hingga 10 dan 17 tahun kemudian, termasuk risiko stunting. Bukti lain menunjukkan potensi gangguan capaian kognitif, IQ lebih rendah, serta gangguan perilaku dan memori.
Menghadapi kondisi tersebut, dr. Nastiti menekankan pentingnya antisipasi ke depan pasca paparan kronik asap karhutla pada anak.
"Diperlukan monitoring ketat jangka panjang terhadap anak yang terdampak," ujarnya.
Ia merinci empat langkah antisipasi yang harus dilakukan. Pertama, pantau tumbuh kembang anak dengan mengukur tinggi dan berat badan secara berkala serta mewaspadai keterlambatan perkembangan. Kedua, pantau pernapasan dengan memonitor batuk atau mengi berulang, menilai kontrol asma, serta melakukan spirometri atau uji fungsi paru bila memungkinkan.
Ketiga, tingkatkan pencegahan melalui imunisasi lengkap, nutrisi yang baik, rumah bebas asap rokok, dan penerapan PHBS. Keempat, lakukan advokasi lingkungan melalui pemantauan udara, penyediaan ruang bersih di sekolah, dan pencegahan karhutla.
Menurutnya, melindungi anak dari dampak karhutla berarti melindungi generasi pemimpin masa depan. "Lindungi generasi pemimpin masa depan. Anak-anak kita adalah 'Their Name Is Today'—mereka berhak mendapatkan masa kanak-kanak yang sehat, bukan korban dari udara yang beracun," tambahnya.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Mecca Yumna Ning Prisie
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira