Jakarta (ANTARA) - Pendaki gunung biasanya mengira suhu udara akan semakin dingin seiring bertambahnya ketinggian. Namun, dalam kondisi tertentu, situasi tersebut justru bisa berbalik. Area lembah atau kaki gunung terasa lebih dingin, sementara kawasan yang lebih tinggi, termasuk punggungan dan puncak, justru memiliki suhu lebih hangat.

Fenomena tersebut dikenal sebagai temperature inversion atau inversi suhu. Kondisi ini cukup menarik karena berlawanan dengan pola suhu udara yang umumnya menurun ketika ketinggian bertambah.

Lantas, mengapa inversi suhu bisa terjadi di kawasan pegunungan?

Apa itu inversi suhu?

Inversi suhu merupakan kondisi ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian dalam lapisan atmosfer tertentu. Situasi ini berbeda dari kondisi normal, ketika udara cenderung semakin dingin di tempat yang lebih tinggi.

Fenomena tersebut dapat terjadi di berbagai wilayah, termasuk kawasan pegunungan yang memiliki lembah, cekungan, atau area rendah yang dikelilingi lereng.

Dalam kondisi inversi, udara dingin terkumpul di bagian bawah, sedangkan udara yang lebih hangat berada di atasnya. Akibatnya, pendaki yang berada di area lebih tinggi terkadang bisa merasakan suhu lebih nyaman dibandingkan orang yang berada di lembah.

Baca juga: Nepal ketatkan syarat pendakian Gunung Everest, tarif baru berlaku

Mengapa inversi suhu bisa terjadi di gunung?

Salah satu penyebab utamanya adalah proses pendinginan permukaan tanah pada malam hari.

Ketika langit cerah dan angin bertiup lemah, permukaan tanah melepaskan panas yang tersimpan sepanjang siang. Udara yang bersentuhan langsung dengan permukaan tersebut kemudian ikut mendingin.

Karena udara dingin memiliki massa jenis lebih tinggi dibandingkan udara hangat, udara tersebut cenderung bergerak menuruni lereng dan berkumpul di lembah atau cekungan.

Sementara itu, udara di bagian yang lebih tinggi tidak mengalami pendinginan secepat udara di dekat permukaan lembah. Kondisi ini membuat lapisan udara hangat berada di atas lapisan udara dingin.

Fenomena tersebut dikenal sebagai cold-air pooling, yaitu penumpukan udara dingin di area rendah. Proses ini dapat membentuk atau memperkuat inversi suhu di kawasan pegunungan.

Kapan fenomena ini biasanya terjadi?

Inversi suhu lebih mudah terbentuk ketika malam berlangsung dengan langit cerah dan angin relatif tenang. Kondisi tersebut memungkinkan permukaan tanah kehilangan panas secara lebih cepat tanpa banyak gangguan pencampuran udara.

Fenomena ini juga dapat bertahan hingga pagi hari. Bahkan, setelah matahari terbit, lembah terkadang masih terasa lebih dingin selama beberapa jam sebelum sinar matahari menghangatkan permukaan dan udara di sekitarnya.

Namun, inversi suhu tidak selalu berlangsung sepanjang hari. Angin yang lebih kuat, perubahan cuaca, atau pemanasan matahari dapat membantu mencampurkan kembali lapisan udara sehingga perbedaan suhu berangsur menghilang.

Baca juga: 5 gunung ini paling cocok untuk pendaki pemula di Indonesia

Apa dampaknya bagi pendaki gunung?

Bagi pendaki, inversi suhu dapat membuat perkiraan kondisi cuaca dan suhu selama perjalanan menjadi kurang tepat jika hanya mengandalkan ketinggian.

Misalnya, area perkemahan di lembah bisa terasa jauh lebih dingin dibandingkan punggungan gunung pada malam atau pagi hari. Kabut dan embun juga dapat lebih mudah terbentuk ketika udara dingin berkumpul di area rendah.

Meski begitu, bukan berarti puncak gunung selalu lebih hangat. Inversi hanya terjadi dalam kondisi atmosfer dan wilayah tertentu. Jika pendaki melewati lapisan inversi dan naik lebih tinggi lagi, suhu udara tetap bisa kembali menurun.

Karena itu, pendaki sebaiknya tidak mengurangi perlengkapan penghangat hanya karena suhu di puncak terasa lebih nyaman saat mengalami inversi.

Memahami fenomena ini membantu pendaki mengenali perubahan kondisi lingkungan selama perjalanan. Selain memperhatikan ketinggian, penting juga untuk mempertimbangkan bentuk medan, kondisi angin, tutupan awan, dan perubahan suhu di sekitar lokasi pendakian, demikian mengutip Mount Washington Observatory dan sumber-sumber lain.

Baca juga: Geopark Ijen pertahankan status UNESCO Global Geopark

Baca juga: Gunung Bromo erupsi dengan tinggi letusan 500 meter

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Raihan Fadilah

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira