Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai peningkatan impor bahan baku dan barang penolong dapat menjadi indikasi aktivitas industri domestik, yang masih berjalan di tengah penyusutan surplus perdagangan Indonesia.
Namun, menurut dia, manfaat peningkatan impor tersebut bagi perekonomian perlu dilihat dari kemampuan industri mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah dan berorientasi ekspor.
"Jika impor bahan baku tumbuh jauh lebih cepat dibanding ekspor, berarti kandungan impor dalam proses produksi masih tinggi dan rantai pasok industri dalam negeri belum cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan sektor manufaktur dan hilirisasi," kata Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor bahan baku dan barang penolong mencapai 150,57 miliar dolar AS sepanjang Januari-September 2026, meningkat 21,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, impor Indonesia secara keseluruhan tumbuh 19,67 persen menjadi 210,63 miliar dolar AS, sedangkan ekspor hanya meningkat 5,58 persen menjadi 221,23 miliar dolar AS.
Perbedaan laju pertumbuhan tersebut menyebabkan surplus perdagangan Indonesia menyusut menjadi 10,61 miliar dolar AS dari 33,48 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
"Ini menunjukkan bahwa mesin ekspor kita belum cukup kuat untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan impor, terutama ketika pertumbuhan masih sangat bergantung pada komoditas," ujarnya.
Yusuf mengatakan penyusutan surplus perdagangan juga perlu dicermati karena dapat mengurangi bantalan eksternal Indonesia.
Dia menuturkan surplus perdagangan selama ini menjadi salah satu penopang untuk mengimbangi defisit pada neraca jasa dan pendapatan primer.
Menurut dia, jika surplus terus menipis, pasokan devisa dari kegiatan ekspor dapat berkurang sehingga nilai tukar rupiah menjadi lebih sensitif terhadap gejolak global.
Kondisi tersebut juga dapat mengurangi kontribusi sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan ketergantungan pada konsumsi serta investasi domestik.
Meski demikian, Yusuf memperkirakan Indonesia masih berpeluang mencatat surplus perdagangan hingga akhir 2026, meskipun nilainya berpotensi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar 41,05 miliar dolar AS sepanjang 2025, tumbuh 31,03 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar 31,33 miliar dolar AS.
Baca juga: Kurs rupiah dipengaruhi sentimen rilis surplus perdagangan Indonesia
Baca juga: Indonesia berpeluang pertahankan surplus perdagangan hingga akhir 2026
Baca juga: Mendag: Lonjakan impor barang modal tanda ekspansi manufaktur
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Shofi Ayudiana
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira