Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengatakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dapat menjadi salah satu sumber energi strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung pencapaian target net zero emission Indonesia pada 2060.

PLTN memiliki keunggulan berupa densitas energi, keandalan pasokan, dan emisi karbon rendah sepanjang siklus hidupnya. Karakteristik tersebut, menurut dia, memungkinkan PLTN menyediakan pasokan listrik yang stabil untuk memenuhi kebutuhan industri dan perekonomian.

“Karakteristik ini menjadikan PLTN relevan sebagai salah satu sumber listrik baseload untuk mendukung ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang,” kata Eddy saat menjadi pembicara dalam Listrik Indonesia Forum 2026 di Jakarta, Rabu.

Berdasarkan Kebijakan Energi Nasional dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025, porsi energi nuklir dalam bauran energi nasional diproyeksikan meningkat secara bertahap. PLTN pertama berkapasitas sekitar 500 megawatt (MW) ditargetkan mulai beroperasi pada 2032–2034.

Meski demikian, Eddy mengingatkan pengembangan PLTN membutuhkan persiapan dari berbagai aspek, meliputi regulasi, kelembagaan, pembiayaan, teknologi, keselamatan, dan penerimaan masyarakat.

“Kita perlu memastikan kesiapan regulasi, kelembagaan, sumber daya manusia, serta standar keselamatan yang kuat sejak tahap perencanaan,” katanya.

Ia menilai pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan koordinasi dan tata kelola program nuklir nasional berjalan secara terintegrasi.

Selain itu, finalisasi Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan serta revisi regulasi ketenagalistrikan juga diperlukan untuk memberikan kepastian kebijakan bagi investor dan mitra teknologi.

Dari sisi pembiayaan, dia mendorong pemerintah mengembangkan skema pendanaan melalui kombinasi dukungan pemerintah, pembiayaan multilateral, kredit ekspor, dan partisipasi modal swasta agar pembangunan PLTN tidak membebani kapasitas fiskal.

Eddy juga menekankan pentingnya aspek keselamatan dengan memperkuat peran Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) sebagai regulator dan pengawas keselamatan nuklir.

“Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang terbuka, akurat, dan berbasis sains mengenai teknologi nuklir, termasuk standar keselamatan dan pengelolaan risikonya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Eddy mendorong penguatan sumber daya manusia, industri pendukung, dan rantai pasok nasional, serta kemitraan internasional yang memungkinkan transfer teknologi.

Menurut dia, Indonesia juga perlu mempertimbangkan dinamika geopolitik global dalam menentukan pilihan teknologi dan mitra strategis pengembangan PLTN.

Ia berharap pengembangan energi nuklir dapat dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan teknologi, industri nasional, sumber daya manusia, dan tata kelola keselamatan.

“Ketahanan energi dan komitmen iklim merupakan dua agenda yang saling memperkuat. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara dengan sistem energi yang lebih mandiri, kompetitif, dan rendah karbon. Energi nuklir dapat menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut,” ucapnya.

Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Fath Putra Mulya

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira