Secara kumulatif, dari 1998 sampai September 2026, tercatat 10.790 kasus. Sementara itu, selama Januari hingga September 2026 terdapat 763 kasus baru
Nabire (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mencatat 763 kasus baru HIV selama Januari hingga September 2026, sehingga penguatan deteksi dini dan keberlanjutan pengobatan menjadi tantangan dalam upaya mengendalikan penularan penyakit tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Nabire Agustina Elvin di Nabire, Selasa, mengatakan temuan kasus baru itu berdasarkan laporan pemeriksaan dari 32 puskesmas, satu klinik swasta, dan satu rumah sakit umum daerah.
“Secara kumulatif, dari 1998 sampai September 2026, tercatat 10.790 kasus. Sementara itu, selama Januari hingga September 2026 terdapat 763 kasus baru,” katanya.
Ia menjelaskan, seluruh 32 puskesmas di Nabire dapat memberikan layanan tes deteksi dini HIV menggunakan rapid diagnostic test (RDT). Pemeriksaan lanjutan diperlukan bagi orang dengan hasil reaktif untuk memastikan diagnosis sesuai prosedur.
Baca juga: Dinkes: 49 faskes di Papua Tengah berikan layanan HIV
Namun, salah satu kendala yang dihadapi petugas adalah orang dengan hasil tes awal reaktif tidak melanjutkan pemeriksaan berikutnya karena takut atau khawatir mengetahui status kesehatannya.
Selain itu, terdapat orang yang telah menjalani rangkaian pemeriksaan dan dinyatakan positif HIV, tetapi tidak melanjutkan ke layanan pengobatan dan dukungan perawatan (PDP). Kondisi ketika pasien tidak melanjutkan tahapan layanan tersebut dikenal sebagai lost to follow-up.
“Ketika hasil awal reaktif, ada yang takut untuk melanjutkan pemeriksaan kedua dan ketiga. Ada juga yang sudah dinyatakan positif, tetapi setelah diedukasi dan dipanggil untuk masuk layanan pengobatan, tidak datang lagi,” ujarnya.
Ia mengatakan, tantangan lainnya mencakup stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV), minimnya sosialisasi kepada masyarakat, serta rendahnya kesadaran untuk melakukan tes HIV secara sukarela.
Baca juga: Dinkes Kaltim pertajam akselerasi penanganan HIV
Dinkes Nabire mendorong peningkatan komunikasi dan edukasi di masyarakat, sekolah, instansi pemerintah, serta sektor swasta untuk memperluas deteksi dini dan mengurangi diskriminasi terhadap ODHIV.
Upaya tersebut sejalan dengan target global Ending AIDS 2030, yang mencakup tiga indikator yaitu pencegahan infeksi baru, penurunan kematian akibat AIDS, dan penghapusan diskriminasi.
“Target penanganan juga mengacu pada indikator 95-95-95, yakni 95 persen ODHIV mengetahui statusnya, 95 persen orang yang telah didiagnosis HIV mendapatkan terapi antiretroviral (ARV), dan 95 persen orang yang menjalani terapi ARV mencapai supresi virus,” katanya.
Ia menambahkan, ketersediaan tenaga kesehatan, termasuk tenaga analis yang ditempatkan melalui program Nusantara Sehat di sejumlah puskesmas, turut membantu pelaksanaan pemeriksaan HIV, terutama di wilayah yang kekurangan tenaga kesehatan.
Dinas Kesehatan berharap kolaborasi pemerintah dan masyarakat dapat memperluas akses pemeriksaan, memastikan pasien melanjutkan pengobatan, serta mendukung pencapaian target pengendalian HIV dan penyakit infeksi menular seksual di Nabire pada 2030.
Baca juga: Fiji tetapkan HIV sebagai krisis nasional, kasus terus melonjak
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Ali Nur Ichsan
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira