Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan data imunisasi rutin per 25 Oktober 2026 menunjukkan cakupan imunisasi HPV (human papillomavirus) bagi anak laki-laki kelas 5 SD mencapai 88 persen, dengan dua provinsi melampaui target 90 persen.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan Indri Yogyaswari mengatakan di Jakarta, Kamis, dua provinsi itu yakni Bali sebesar 97,7 persen, Yogyakarta dengan 93,5 persen. Adapun Jakarta, katanya, mencatatkan 82,5 persen cakupan imunisasi HPV.
Sementara itu, katanya, cakupan imunisasi HPV bagi anak perempuan kelas 5 SD pada 2026 sebesar 83,5 persen, dengan 12 provinsi mencapai target. Daerah-daerah itu antara lain Bengkulu, Banten, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, dan Yogyakarta.
Baca juga: Kemenkes jajaki vaksinasi HPV bagi kelompok dewasa muda mulai 2027
Kementerian Kesehatan memberikan vaksinasi HPV gratis untuk anak-anak sebagai upaya pencegahan sejumlah kanker, seperti kanker serviks, kanker anus, kanker penis, dan kanker orofaring.
"Inilah sebabnya kami kemudian memperluas sasaran HPV ini bukan hanya pada kelompok anak perempuan tapi juga pada kelompok anak laki-laki. Karena ternyata memang yang bisa kita lindungi dua-duanya. Ini kembali dengan prinsip dasar dari kesehatan. Harus ada pemerataan dan kesetaraan. Jadi bukan hanya pada gender tertentu," ujar Indri.
Oleh karena itu, pihaknya akan memperluas cakupan vaksinasi HPV bagi anak laki-laki ke tiga provinsi lain, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten.
"Jadi akan ada enam tahun depan yang kita perluas imunisasi HPV pada anak laki-laki usia 11 tahun," katanya.
Baca juga: Kemenkes: Baru 13 provinsi capai target imunisasi HPV anak SD
Dia juga mengingatkan pentingnya vaksin HPV untuk pencegahan kanker, karena virus itu tidak hanya ditularkan melalui hubungan seksual. Menurut sebuah studi di China pada 2025, katanya, HPV ditemukan di fasilitas umum, terutama kamar mandi. Beberapa benda tempat ditemukannya virus itu seperti dudukan toilet, wastafel, dan pegangan pintu.
Menurutnya, masih ada tantangan dalam imunisasi HPV. Sejumlah faktor, seperti kekhawatiran terhadap kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), narasi tentang vaksin HPV menyebabkan kemandulan atau autisme, serta bencana alam dan kondisi yang mengganggu akses serta jadwal imunisasi.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, berdasarkan estimasi GLOBOCAN 2022, Indonesia menghadapi lebih dari 408 ribu kasus baru kanker setiap tahun. Dari angka tersebut, sekitar 37 ribu perempuan Indonesia didiagnosis kanker serviks, dan lebih dari 20 ribu meninggal akibat penyakit ini setiap tahun.
Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas KIPI) Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari vaksin HPV lebih baik diberikan ketika anak-anak saat masuk masa pubertas, yaitu 9-12 tahun, karena di masa itu anak mulai berisiko terinfeksi virus.
"Selama 15-20 tahun, nggak ada gejalanya. Muncul-muncul kanker serviks, waktu tanpa gejala, dia tenang-tenang. Waktu 15-20 tahun, datang udah grade 3," kata Prof. Hinky.
Baca juga: Dokter sebut vaksin HPV tetap ampuh bagi wanita yang sudah melahirkan
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Mecca Yumna Ning Prisie
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira