Mataram (ANTARA) - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Nusa Tenggara Barat mengungkapkan budidaya sapi eksotik atau sapi ras luar Indonesia, kini menjadi primadona baru di wilayah itu seiring tingginya permintaan pasar dan potensi keuntungan yang didapat jauh lebih besar.
Kepala Disnakeswan NTB Muhammad Riadi mengakui sejumlah peternak di berbagai kabupaten/kota mulai melirik pengembangan sapi jenis Brahman Cross, Simental, Limosin, hingga Belgian Blue karena memiliki potensi peningkatan bobot badan harian lebih tinggi dibandingkan sapi lokal Bali.
"Sudah banyak. Peternak yang memang bergerak di bidang penggemukan dan pengembangan ternak, rata-rata mulai menyukai sapi eksotik," ujarnya di Mataram, Selasa.
Ia menjelaskan, sapi eksotik yang dikembangkan di NTB ini melalui pemeliharaan murni maupun persilangan dengan sapi Bali untuk menghasilkan keturunan dengan potensi pertumbuhan bobot badan yang lebih optimal.
Saat ini sebaran-nya sudah menjangkau Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Wilayah Lombok menjadi daerah dengan pengembangan paling banyak, disusul Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Sementara di Kabupaten Bima dan Dompu, sejumlah peternak juga mulai mengembangkannya.
"Di NTB sudah ada. Di Dompu ada, Bima ada, KSB juga ada. Tetapi yang paling banyak di Lombok, kemudian baru di KSB, kalau angka jumlahnya kita belum dapat pastikan," jelasnya.
Menurutnya, keunggulan utama sapi eksotik terletak pada kemampuan pertumbuhan bobot badan harian (PBBH). Jika sapi Bali secara potensi genetik memiliki pertumbuhan maksimal sekitar 0,9 kilogram per hari, sapi eksotik tertentu mampu mencapai 1,5 kilogram per hari dengan dukungan pemeliharaan dan pakan yang tepat.
"Potensi genetik-nya maksimal sekitar 0,9 kilogram per hari. Tetapi sapi eksotik bisa mencapai 1,5 kilogram per hari. Selisih 0,5 kilogram itu yang menjadi keuntungan peternak," terang Riadi.
Baca juga: Mentan: Lampung potensial kembangkan sapi Belgian Blue
Baca juga: Kementan kembangkan indukan sapi belgian blue dan wagyu di 12 provinsi
Riadi menyatakan selisih bobot tersebut berdampak langsung pada nilai ekonomi. Dengan harga sapi hidup yang disebut berada pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, pertambahan bobot badan tersebut dinilai memberikan nilai ekonomi cukup besar. Potensi keuntungan tambahan dalam satu siklus penggemukan bisa mencapai sekitar Rp2 juta per ekor.
"Kalau dihitung, kenaikan berat badan harian dikalikan harga per kilogram berat hidup, itu menjadi keuntungan tambahan bagi peternak," ungkapnya.
Selain PBBH tinggi, sapi eksotik juga memiliki potensi bobot badan yang besar. Bahkan, dalam kontes ternak yang digelar di Barabali, Lombok Tengah, terdapat sapi dengan bobot mencapai sekitar 1,3 ton.
Meski pengembangan sapi eksotik di NTB terus meningkat, sapi eksotis ini masih perlu diperkuat, terutama dari sisi pembinaan peternak, pengembangan bibit, dan pola pemeliharaan. Sebab, pihaknya melihat komoditas tersebut sebagai salah satu peluang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan peternak daerah.
"Pengembangan sapi eksotik diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas populasi ternak dan memperkuat sektor peternakan NTB ke depan," katanya.
Baca juga: Jagung Bima 20 diminati peternak sapi eksotik di Lombok Timur
Baca juga: Sinjai produksi sapi limosin hingga 3.000 ekor per tahun
Pewarta: Nur Imansyah
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Nur Imansyah
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira