Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan 19 kandidat obat herbal untuk naik ke tingkat fitofarmaka guna mendukung kemandirian obat sebagaimana ditekankan Presiden Prabowo Subianto.
"Obat herbal ini saya kira sangat potensial, dan BRIN sudah juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat proses obat herbal ini," kata Kepala BRIN Arif Satria di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.
Arif menyampaikan hal itu setelah menemui Presiden untuk melaporkan sejumlah penugasan riset. Menurut dia, Presiden menekankan kemandirian obat harus segera diwujudkan.
Arif menjelaskan sejumlah obat herbal hasil riset BRIN saat ini masih berada pada tahap obat herbal terstandar (OHT). Untuk naik ke tingkat klasifikasi fitofarmaka, obat tersebut harus melalui berbagai uji, termasuk uji klinis yang kini sedang berlangsung.
BRIN, lanjut dia, akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mempercepat proses tersebut.
Dalam pertemuan itu, Arif juga melaporkan riset vaksin malaria. Presiden meminta riset tersebut dipercepat. BRIN kini memiliki empat kandidat vaksin malaria yang dikembangkan bersama Kementerian Kesehatan dan Bio Farma.
Untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BRIN berkolaborasi dengan BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI AU dalam operasi modifikasi cuaca (OMC). BRIN juga tengah meneliti model perambatan api di lokasi karhutla.
Di bidang energi, Arif melaporkan potensi biogas dari limbah sawit. Menurut dia, limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) dan tandan kosong sawit berpotensi menghasilkan listrik sekitar 3,9 gigawatt.
BRIN juga memperkenalkan teknologi Metal-Organic Framework (MOF), material yang mampu menyimpan gas dalam jumlah lebih besar sehingga biogas dapat dikemas dalam tabung. Arif menyebut teknologi itu bisa menjadi solusi energi, mengingat impor LPG mencapai sekitar 97 triliun per tahun.
Baca juga: Presiden minta BRIN percepat riset vaksin malaria
Baca juga: Sebanyak 16 ilmuwan BRIN masuk dalam daftar "Top 2% Scientists 2026"
Pewarta: Aditya Ramadhan, Maria Cicilia Galuh
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Aditya Ramadhan, Maria Cicilia Galuh
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira