Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus mendorong modernisasi sistem pengawasan berbasis sains dan teknologi untuk menghadapi kompleksitas perdagangan daring, transaksi lintas batas, serta peredaran produk ilegal dan palsu.
Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat BPOM Lynda K Wardhani mengatakan dalam keterangan di Jakarta, Rabu, bahwa salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah modernisasi laboratorium, digitalisasi pengujian, serta penerapan konsep Laboratorium Hijau (Green Laboratory) melalui rencana proyek bersama Asian Development Bank (ADB).
Lynda memaparkan rencana kerja sama strategis dengan skema pembiayaan proyek “Bolstering Product Oversight and Market Surveillance for Food and Drug (BPOM) Project” melalui pinjaman luar negeri yang telah masuk dalam Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri (DRPPLN) atau Green Book 2026.
"Transformasi sistem pengawasan ini difokuskan pada tiga pilar utama yang digagas BPOM. Pilar pertama mencakup penguatan kapasitas laboratorium hijau di daerah melalui pemenuhan sarana, prasarana, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia untuk mendukung kebutuhan pengujian yang andal," katanya.
Pilar kedua, katanya, berupa digitalisasi pengujian dan integrasi data melalui pengembangan Laboratory Information Management System (LIMS) nasional guna memperkuat ketertelusuran data, efisiensi proses kerja, serta ketepatan pengambilan keputusan.
Baca juga: BPOM bongkar pabrik kosmetik ilegal di Mojokerto
"Sedangkan pilar ketiga difokuskan pada pengembangan konsep Green Laboratory sebagai wujud komitmen BPOM dalam mendorong efisiensi energi, pemanfaatan sumber daya yang lebih hemat, serta operasional laboratorium yang berkelanjutan," katanya.
Dia pun menyampaikan apresiasi kepada ADB Indonesia Resident Mission atas penyelenggaraan kunjungan media visit ke Balai Besar POM di Makassar. Menurut dia, kegiatan ini merupakan kesempatan untuk memperkuat pemahaman mitra pembangunan, media, dan masyarakat mengenai pelaksanaan pengawasan obat dan makanan, khususnya peran laboratorium dalam mendukung pengawasan berbasis sains.
"Keterlibatan media menjadi sangat krusial karena media merupakan mitra strategis BPOM dalam memperluas jangkauan edukasi serta meningkatkan literasi masyarakat mengenai keamanan produk obat dan makanan," tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, 10 jurnalis dari berbagai media nasional dan asing, baik cetak, elektronik, maupun daring hadir menyaksikan secara langsung bagaimana proses pengujian di laboratorium BBPOM di Makassar. Para jurnalis mendapatkan penjelasan langsung mengenai bagaimana BPOM menjalankan fungsi pengawasannya secara komprehensif.
BBPOM di Makassar dipilih sebagai salah satu lokus utama pembangunan laboratorium karena memiliki posisi dan peran yang sangat strategis dalam menopang sistem pengawasan di kawasan timur Indonesia. ADB Indonesia Resident Mission Bobur Alimov menyampaikan bahwa Makassar tidak hanya menghubungkan Sulawesi, tetapi juga menghubungkan wilayah Indonesia bagian timur.
Baca juga: RI-Rusia jajaki transfer teknologi tingkatkan pengawasan obat-makanan
“Ini adalah pembangunan regional yang sangat penting, dan terutamanya Indonesia Timur memiliki potensi yang sangat baik, tetapi juga menghadapi tantangan-tantangan infrastruktur, pelayanan yang esensial, dan kemungkinan ekonomi. Makassar merupakan jembatan bagi Timur Indonesia dan merupakan salah satu pusat metropolitan terbesar di Indonesia, dan saya berpikir ini sangat simbolis untuk memulai dengan Makassar,” ungkap Bobur Alimov.
Kepala BBPOM di Makassar Yosef Dwi Irwan Prakasa menjelaskan kepada para jurnalis bahwa BPOM memegang peran sentral sebagai garda terdepan pengatur dan pengawas ekosistem kesehatan nasional. BPOM memastikan seluruh produk obat, obat bahan alam, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan yang beredar di Indonesia telah memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu.
"Pengawasan BPOM bersifat full spectrum yang merupakan satu kesatuan siklus mata rantai pengawasan yang tidak terpisahkan (product life cycle), mulai dari pengawasan sebelum produk beredar (pre-market), pengawasan setelah produk beredar (post-market), hingga penindakan hukum (pro-justitia)," tegas Yosef.
Dia menambahkan bahwa seluruh rangkaian pengawasan komprehensif full spectrum tersebut merupakan bukti nyata komitmen BPOM dalam menjaga kesehatan publik.
Melalui penguatan kelembagaan dan modernisasi sistem pengawasan ini, BPOM berharap kemitraan strategis dapat terus dikembangkan secara konstruktif dan berkelanjutan.
Output dari kemitraan ini diharapkan dapat dioptimalisasi untuk meningkatkan perlindungan bagi masyarakat terhadap risiko kesehatan akibat produk obat dan makanan yang tidak sesuai dengan ketentuan.
Baca juga: BPOM gelar ToT, upaya cegah kenakalan remaja imbas penyalahgunaan OOT
Baca juga: BPOM: inovasi kesehatan jawab tantangan penyakit langka global
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Mecca Yumna Ning Prisie
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira