Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan praktik perawatan mandiri (self-care) yang semakin marak perlu didukung dengan akses informasi yang tepercaya di tengah maraknya penjualan daring dan pesatnya adopsi kecerdasan buatan.

Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam keterangan di Jakarta, Rabu, mengatakan perawatan mandiri kini bergeser dari sekadar pilihan pribadi menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat, industri, fasilitas kesehatan, dan regulator. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025, sebanyak 78,43 persen penduduk Indonesia mengalami keluhan kesehatan memilih pengobatan mandiri.

"Self-care bukan pengganti pelayanan kesehatan. Self-care harus dilakukan secara tepat dan tetap memerlukan konsultasi dengan tenaga kesehatan, apabila gejala yang dialami menetap atau memburuk," katanya.

Selain itu, ujarnya, riset Global Self-Care Federation (GSCF) mencatat pengobatan mandiri yang tepat berpotensi menghemat biaya kesehatan global hingga 144 miliar dolar AS per tahun serta menghemat miliaran jam waktu pelayanan medis.

Sebagai upaya memastikan praktik perawatan mandiri yang aman, pihaknya berupaya menangkal risiko salah guna maupun disinformasi obat dengan memperkuat transparansi informasi melalui digitalisasi.

Baca juga: BPOM uji sampel Beeru Stevia, panggil Doktif guna klarifikasi data

Ia mencontohkan penggunaan 2D Barcode, e-labelling, aplikasi BPOM Mobile, pengawasan siber di e-commerce, serta intensifikasi edukasi masyarakat lewat kampanye Cek KLIK (Cek Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa).

BPOM menegaskan komitmen mendukung transformasi kesehatan masyarakat melalui penguatan praktik perawatan kesehatan mandiri yang aman, rasional, dan berbasis bukti.

"Peran regulator kini bertransformasi dari sekadar gatekeeper menjadi bridge (jembatan) yang menghubungkan inovasi industri dengan perlindungan kesehatan publik. Pendekatan berbasis risiko dan kolaborasi Academia-Business-Government (ABG) menjadi kunci untuk mempercepat akses produk obat yang aman, efisien, dan bermutu tanpa mengorbankan standar keselamatan," ujar Taruna.

Director General of the Global Self-Care Federation (GCSF) Greg Perry mendorong pemangku kepentingan membangun kepercayaan, memperkuat kolaborasi, dan meningkatkan pemahaman masyarakat sebagai upaya mengembangkan sistem perawatan mandiri yang baik.

“Namun, yang juga tak kalah penting adalah data laporan yang memadai untuk menjadi bukti bagi pemerintah, organisasi kesehatan internasional, serta pemangku kepentingan lainnya untuk dapat mengintegrasikan self-care ke dalam sistem kesehatan,” katanya.

Chairperson APSMI Rachmadi Joesoef juga menegaskan perlunya masyarakat didukung dengan pengetahuan dan informasi yang tepat, serta akses terhadap pilihan perawatan kesehatan yang aman dan sesuai untuk melakukan praktik perawatan mandiri.

Dia menyebut sejak 2024 lebih dari 150 inisiatif telah dijalankan di kawasan Asia Pasifik, mencakup peningkatan literasi kesehatan, edukasi apoteker dan tenaga ritel, informasi kesehatan digital, serta pendekatan regulasi yang adaptif.

Baca juga: BPOM-WHO kuatkan surveilans obat tradisional kejar potensi ekonomi

Baca juga: BPOM sederhanakan regulasi obat non-resep buat perkuat perawatan diri

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Mecca Yumna Ning Prisie

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira