Jakarta (ANTARA) - PT Bio Farma (Persero) mendorong percepatan hilirisasi hasil riset menjadi produk kesehatan bernilai tambah guna memperkuat kemandirian industri bioteknologi nasional.
Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan pengembangan industri bioteknologi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pelaku industri, dan mitra internasional, terutama dalam penguasaan teknologi dan peningkatan kapasitas produksi.
“Hingga saat ini, Bio Farma memiliki kapasitas produksi mencapai 4,2 miliar dosis vaksin per tahun. Produk kami telah digunakan di 153 negara, dengan total distribusi mencapai 86 miliar dosis sejak 2001,” kata Shadiq dalam forum Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10).
Menurut dia, penguatan industri bioteknologi tidak hanya bergantung pada kemampuan penelitian, tetapi juga kesiapan teknologi, fasilitas manufaktur, pembiayaan jangka panjang, serta akses pasar yang berkelanjutan.
Bio Farma terus mengembangkan berbagai produk vaksin, termasuk vaksin tifoid konjugat (TCV), rotavirus, dan human papillomavirus (HPV), sekaligus memperkuat penguasaan teknologi baru seperti messenger ribonucleic acid (mRNA) dan teknologi rekombinan.
Upaya tersebut didukung kolaborasi dengan sejumlah lembaga internasional, antara lain Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), UNICEF, Gates Foundation, dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).
Sementara itu, Direktur Operasi Bio Farma Iin Susanti menekankan pentingnya kesiapan industri dalam mengembangkan hasil penelitian menjadi produk yang dapat diproduksi secara massal dan dipasarkan.
“Penelitian adalah langkah awal. Namun, penelitian yang tidak dapat diskalakan menjadi sebuah produk hanya akan tetap berada di laboratorium. Karena itu, dibutuhkan rekayasa proses dan komersialisasi,” ujar Iin.
Ia menjelaskan pengembangan vaksin membutuhkan proses panjang, mulai dari penelitian, pengujian praklinis, uji klinis, hingga pemenuhan persyaratan regulasi, yang dapat berlangsung selama 10 hingga 15 tahun atau lebih.
Salah satu keberhasilan kolaborasi tersebut tercermin dari pengembangan vaksin novel oral polio vaccine type 2 (nOPV2) yang memperoleh prakualifikasi WHO pada 2023. Hingga 2026, lebih dari dua miliar dosis vaksin tersebut telah diberikan di seluruh dunia.
Menurut Iin, percepatan hilirisasi juga memerlukan dukungan pembiayaan jangka panjang, terutama untuk peningkatan skala produksi, pembangunan fasilitas manufaktur, serta pengembangan sumber daya manusia yang menguasai teknologi bioteknologi.
Dalam hal ini, dukungan investasi dari Danantara dan lembaga pembiayaan pembangunan dinilai dapat menjadi salah satu faktor penting untuk mempercepat pengembangan industri bioteknologi di dalam negeri.
Bio Farma juga melihat peluang Indonesia menjadi pusat produksi vaksin di kawasan ASEAN melalui pengembangan teknologi mRNA, manufaktur biologis, serta riset penyakit tropis seperti tuberkulosis dan demam berdarah dengue.
Penguatan ekosistem tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap teknologi dan produk kesehatan impor, meningkatkan daya saing industri nasional, serta memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · PR Wire
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira