Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan ekspor listrik masih dapat berlanjut selama negara calon pembeli menyepakati harga yang telah ditawarkan pemerintah Indonesia.
"Selama harganya cocok, ikuti harga kita, memungkinkan dong. Tapi kalau harganya tidak cocok, kami akan memprioritaskan untuk kebutuhan di dalam negeri," kata Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin.
Bahlil menjelaskan pemerintah telah melakukan perhitungan harga ekspor listrik melalui Kementerian ESDM. Oleh karena itu, dia meminta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tidak terpengaruh lobi pihak-pihak yang menginginkan penurunan harga tersebut.
"Saya minta untuk Danantara enggak boleh dilobi, untuk mau mengikuti agar harga bisa turun," ujar Bahlil yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu.
Menurut Bahlil, kerja sama ekspor listrik harus memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Apabila harga yang ditawarkan belum disepakati, pemerintah tidak akan memaksakan ekspor dan akan mengutamakan pemenuhan kebutuhan listrik di dalam negeri.
"Menyangkut dengan ekspor listrik kita, saya katakan bahwa yang pertama kita perhatikan harus saling menguntungkan. Kalau harganya belum cocok, kita enggak bisa," kata Bahlil.
Dia kembali menegaskan bahwa kebutuhan domestik menjadi prioritas pemerintah sebelum membuka peluang penjualan listrik ke negara lain.
"Kita harus memenuhi dulu apa yang menjadi kebutuhan kita di domestik," pungkasnya.
Sebelumnya, Bahlil mengumumkan, Indonesia belum bisa mengekspor listrik dalam waktu dekat, sebab Indonesia masih membutuhkan listrik.
"Indonesia dalam waktu dekat belum bisa mengekspor listrik, ya. Kita masih butuh listrik," ucap Bahlil dalam pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 yang digelar di Jakarta, Senin.
Bahlil memperingatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk tidak menerima lobi-lobi yang dilakukan oleh negara yang akan menjadi penerima ekspor listrik Indonesia.
Pada Juli 2026, Bahlil menyampaikan sedang berlangsung negosiasi terkait harga listrik hijau yang akan diekspor oleh Indonesia ke Singapura, agar memberikan manfaat ekonomi yang seimbang bagi kedua negara.
Rencana perdagangan listrik lintas batas menjadi bagian dari penguatan hubungan ekonomi kedua negara, khususnya dalam pengembangan energi hijau dan transisi energi. Namun, penyelesaian negosiasi harga tetap menjadi penentu agar kerja sama tersebut dapat segera diimplementasikan.
Kesepakatan harga yang seimbang dinilai penting agar ekspor listrik tidak hanya menjadi transaksi komersial, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi nyata bagi Indonesia serta mendukung keberlanjutan kerja sama energi dengan Singapura.
Presiden Prabowo Subianto pun menunjuk BPI Danantara untuk melaksanakan implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas dengan Singapura.
Baca juga: Bahlil umumkan Indonesia belum bisa ekspor listrik
Baca juga: Menperin dorong Toyota perluas produksi mobil listrik dan ekspor
Baca juga: Rosan: Ekspor baterai kendaraan listrik IWIP perkuat hilirisasi RI
Pewarta: Fathur Rochman/Maria Cicilia Galuh
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Fathur Rochman/Maria Cicilia Galuh
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira