Desa Kaliwedi menjadi contoh bahwa ketahanan pangan di tingkat desa dapat terjadi ketika masyarakat bergerak bersama dengan dukungan kebijakan dan inovasi yang tepat
Jakarta (ANTARA) - Di bawah terik matahari dan di tengah hamparan sawah yang menguning, tangan yang tampak keriput itu mengikat sebuah karung berisi gabah. Wajahnya berpeluh, namun sorot matanya menyiratkan rasa syukur. Panen kali ini, sawahnya yang seluas enam patok atau sekitar dua hektare itu panen lebih dari 15 ton.
Sutarno, pria paruh baya itu, telah menjadi petani lebih dari satu dekade, melanjutkan warisan orang tua. Sawahnya amat produktif, bisa panen tiga kali dalam setahun.
Dengan nada bergetar, Sutarno bercerita kepada ANTARA bahwa sebelum sawahnya seproduktif sekarang, ia pernah melewati masa yang amat sulit ketika sawah garapannya adalah sawah tadah hujan yang hanya bisa panen sekali dalam setahun.
“Dulu memang sangat kekurangan sekali, baik itu sandang, pangan, memang agak kesulitan sekali, karena boleh dikatakan panen sekali, kadang-kadang dalam satu tahun itu gagal,” ujar Sutarno.
Desa Kaliwedi, tempat Sutarno tinggal, saat ini merupakan salah satu lumbung pangan terbesar bagi Kabupaten Sragen. Kabupaten Sragen merupakan salah satu daerah dengan ketahanan pangan yang kuat, menduduki peringkat tiga penghasil padi di Jawa Tengah. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah pun mencatat produksi beras di Bumi Sukowati itu mencapai 397.014 ton pada 2025.
Namun siapa sangka, Desa Kaliwedi yang kini berstatus sebagai Desa Mandiri itu pernah menyandang status Desa Tertinggal hingga tahun 2018. Desa itu pernah menghadapi keterbatasan akses air yang serius sehingga usaha di sektor pertanian tak bisa berjalan optimal. Padahal, 90 persen warganya menggantungkan hidup dari bertani.
Titik balik Kaliwedi
Pemerintah Desa Kaliwedi tak tinggal diam. Sejak dilantik pada Desember 2013, Kepala Desa Kaliwedi Daryono mulai mencari jalan keluar untuk membenahi persoalan mendasar yang menghambat usaha di sektor pertanian, yakni ketersediaan air.
Pemerintah Desa belajar dari tetangganya, Kabupaten Ngawi, yang menggunakan sumur dalam untuk mengairi pertanian. Upaya pembangunan sumur dalam pun mulai dirintis tahun 2015.
Akan tetapi, ada satu persoalan lagi. Pembangunan satu sumur dalam membutuhkan biaya yang tak sedikit, yakni sekitar Rp70 juta. Namun setelah berdiskusi dengan masyarakat dan mendapat penghitungan bahwa satu sumur dalam bisa mengairi empat hingga lima hektare lahan, pembangunan sumur dalam tetap dilakukan. Biayanya didapat dari Kredit Usaha Rakyat.
Kini, sebanyak 108 sumur dalam telah dibangun di Desa Kaliwedi, mengairi sekitar 250 hektare lahan pertanian. Tanah Desa Kaliwedi pun subur. Produktivitas pertanian meningkat signifikan. Sebelum ada sumur dalam, panen hanya satu kali setahun dengan rata-rata produksi 7,5 ton. Namun pada 2025, panen menjadi tiga kali setahun dengan rata-rata produksi 22,5 ton per hektare dalam satu tahun.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Suci Nurhaliza
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira