Jakarta (ANTARA) - Perusahaan manajer investasi Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia menjelaskan peralihan investasi global ke sektor teknologi kecerdasan buatan (AI) turut memengaruhi aksi jual asing di pasar saham nasional, sementara peluang investasi domestik dinilai tetap terbuka.

Presiden Direktur AllianzGI Indonesia Aliyahdin Saugi mengatakan sebagian investor global mengalihkan penempatan dananya ke pasar Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat (AS) yang memiliki perusahaan terkait AI.

“Jadi (keluarnya dana) enggak serta-merta gara-gara MSCI ini,” kata Aliyahdin dalam Media Roundtable di Jakarta, Senin.

Menurut dia, pengalihan dana tersebut juga didorong peluang investasi pada perusahaan pembuat cip dan pengembangan infrastruktur AI, termasuk pusat data, yang menjadi perhatian investor global.

“Ada juga yang pindah gara-gara mereka ada opportunity di Korea, di Taiwan, atau di Amerika,” ujarnya.

Ia mengatakan pergerakan dana asing perlu dilihat dalam konteks perubahan pilihan investasi internasional, tidak hanya berdasarkan sentimen terhadap pasar modal Indonesia.

Aliyahdin menjelaskan manajer investor aktif dapat mengubah komposisi portofolio sebelum terjadi perubahan indeks acuan, sedangkan investor pasif umumnya menyesuaikan penempatannya mengikuti indeks yang digunakan.

Ia menyebut dana asing yang keluar dari saham Indonesia sejak awal 2026 telah melampaui 5 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp90,69 triliun.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan jual bersih saham secara kumulatif Rp97,921 triliun hingga 30 Oktober 2026, termasuk jual bersih Rp138,71 miliar pada perdagangan Jumat (30/10).

Pada pekan perdagangan 26–30 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 7,03 persen ke posisi 5.057,05 dari 5.439,26 pada penutupan pekan sebelumnya.

Meski demikian, Aliyahdin mengatakan Indonesia tetap memiliki peluang menarik investasi karena didukung ukuran ekonomi domestik yang besar dan keberagaman sektor perusahaan yang tercatat di bursa.

“Kalau melihat Indonesia itu, kita punya segala macam sektor,” ucap dia.

Keberagaman bidang usaha, lanjut dia, memberi investor pilihan untuk menilai saham berdasarkan karakteristik bisnis dan prospek masing-masing perusahaan, bukan hanya mengikuti perpindahan minat global ke sektor teknologi.

Dalam menentukan pilihan saham, ia mengatakan investor mempertimbangkan pertumbuhan laba, valuasi, imbal hasil dividen, serta kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas.

Aliyahdin menilai sejumlah perusahaan di Indonesia masih memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang dapat menarik perhatian investor, meskipun harga saham mengalami tekanan dalam jangka pendek.

Dari sisi partisipasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 32,17 juta pada akhir September 2026, meningkat 57,96 persen sejak awal tahun dan bertambah 1,03 juta selama September.

Jumlah tersebut mencakup investor berbagai instrumen pasar modal, termasuk saham, reksa dana, dan surat berharga negara, sehingga tidak menunjukkan jumlah investor saham saja.

Aliyahdin berpandangan arus keluar modal tidak berarti investor global akan meninggalkan Indonesia secara permanen, tetapi keputusan penempatan dana tetap bergantung pada peluang serta risiko yang dinilai masing-masing investor.

“Tapi apakah kita pesimistik mengenai ini? Tentunya enggak,” katanya.

Baca juga: BEI evaluasi insentif pajak bagi emiten guna perkuat pasar modal RI

Baca juga: Sebanyak 42 UKM di Papan Akselerasi BEI himpun Rp2 triliun lewat IPO

Baca juga: IHSG ditutup menguat didukung neraca perdagangan lebih dari ekspektasi

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Aria Ananda

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira