Depok (ANTARA) - Menteri Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengajak semua pihak untuk merenungkan kembali hakikat dari Sumpah Pemuda itu sendiri.
"Saya merasa senang dengan kegiatan hari ini karena peringatan Sumpah Pemuda yang dilaksanakan tahun ini kebetulan memberikan satu semangat baru, suasana baru kepada kita bersama," kata Yusril saat menjadi Pembicara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 “Outlook Gerakan Pemuda Indonesia" di Makara Art Center Universitas Indonesia (UI) Depok, Rabu.
Yusril bersyukur sampai hari ini masih tetap teguh memegang cita-cita kebangsaan, yaitu cita-cita persatuan nasional sebagai satu bangsa, satu negara, dan mengakui, menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan nasional.
Tentunya lanjut Yusril kita dapat melakukan evaluasi setelah hampir satu abad Sumpah Pemuda ini, apakah yang dicita-citakan oleh para pemuda tahun 1928 itu sudah dapat dilaksanakan sekarang secara seluruhnya.
"Saya kira dalam artian satu bangsa, satu negara, satu bahasa itu betul-betul sudah kita hayati ini merupakan satu kekuatan yang luar biasa pada bangsa ini," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan dengan ratusan jumlah etnik, bahasa daerah, suku bangsa, tapi semua merasa mereka adalah Indonesia.
Betapapun juga penduduk di kawasan-kawasan perbatasan seperti Kepulauan Riau, di Sangihe Talaud, dan lain-lain itu hidup juga dalam keadaan yang tidak terlalu menggembirakan secara kesejahteraan ekonomi dan sosial, tapi tetaplah mereka itu mencintai negara dan bangsa.
"Ini menjadi modal penting bagi untuk melanjutkan upaya membangun bangsa dan negara. Fokus tetap pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial," katanya.
Yusril menekankan masalah hukum sebagai salah satu unsur yang sangat penting dalam pembangunan bangsa dan negara, karena tanpa adanya keadilan dan kepastian hukum, maka selama itulah sulit untuk mencapai kesejahteraan, untuk mempercepat proses pembangunan ekonomi nasional kita.
Sementara itu Rektor UI Heri Hermansyah mengatakan saat ini kita bisa merasakan sendiri bahwa satu nusa, satu bangsa, satu bahasa itu betul-betul sudah dapat dirasakan.
Bahkan mungkin bagi masyarakat yang berada di Jabodetabek, kadangkala lupa dengan bahasa daerah sendiri.
"Kita dari berbagai daerah tapi sehari-hari berbahasa Indonesia. Ini artinya Sumpah Pemuda 98 tahun lalu ini sudah mendarah daging," ujarnya.
Rektor menekankan bagaimana Indonesia melihat ke depan yang terkait dengan kedaulatan.
Saat ini kita tidak hanya bisa melihat Indonesia sebagai Indonesia, tapi juga melihat Indonesia dalam satu kerangka global, tatanan dunia.
"Tentunya Indonesia ingin menjadi bangsa yang makmur dan menjadi bangsa yang betul-betul maju dengan kedaulatan teknologi dan kedaulatan ekonomi," demikian Heri.
Pewarta: Feru Lantara
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Feru Lantara
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira