Jakarta (ANTARA) - Petenis Swiss Stan Wawrinka mengakhiri karir profesionalnya dengan meninggalkan tiga gelar Grand Slam, 16 gelar turnamen level tur, serta warisan semangat juang dan kerendahan hati yang menginspirasi generasi berikutnya.
Petenis berusia 41 tahun itu menutup perjalanan karirnya di Swiss Indoors Basel setelah membukukan 590 kemenangan pada level tur dan pernah menduduki peringkat ketiga dunia.
"Sepanjang karir, yang saya inginkan hanyalah memberikan segalanya, tidak memiliki penyesalan, selalu berjuang, dan memberikan 100 persen dalam setiap pertandingan sebagai bentuk penghormatan kepada diri sendiri, lawan, turnamen, penggemar, dan semua orang," kata Wawrinka dikutip dari ATP, Rabu.
Wawrinka dikenal melalui pukulan backhand satu tangan yang khas serta kegigihannya menghadapi lawan-lawan terbaik dunia.
Menurut Wawrinka, hal terpenting dalam perjalanan lebih dari dua dekade di dunia tenis bukanlah bagaimana orang lain mengenangnya, melainkan usaha maksimal yang selalu diberikan dalam setiap pertandingan.
Salah satu pencapaian terbesar Wawrinka terjadi pada US Open 2016 ketika dia mengalahkan petenis Serbia Novak Djokovic dalam empat set pada final. Kemenangan itu menjadi gelar Grand Slam ketiganya sekaligus mempertegas kemampuannya menaklukkan pemain terbaik dunia dalam pertandingan besar.
Baca juga: Alcaraz dan Zverev lewati ujian berat pada babak pertama di Wina
Ketiga gelar Grand Slam Wawrinka, Australian Open 2014, French Open 2015, dan US Open 2016, seluruhnya diperoleh setelah mengalahkan petenis berstatus peringkat satu dunia pada partai final.
Wawrinka mengakui tekanan menjelang final US Open 2016 cukup besar. Namun, dukungan pelatihnya, Magnus Norman, membantunya menjaga konsentrasi dan tidak terlalu memikirkan hasil akhir pertandingan.
"Saya sangat gugup menjelang final. Magnus membantu saya melewati momen tersebut, tetap fokus pada pertandingan, dan tidak terlalu memikirkan hasil akhirnya," ujar Wawrinka.
Norman menilai Wawrinka bukan hanya petenis dengan kemampuan teknis luar biasa, tetapi juga sosok yang menghormati semua orang tanpa memandang kedudukan mereka.
Menurut Norman, sikap tersebut membuat Wawrinka disukai oleh rekan-rekannya di berbagai turnamen.
Baca juga: Alcaraz kembali berkompetisi di Wina, berburu gelar keempat musim ini
Pengaruh Wawrinka juga dirasakan petenis Italia Matteo Berrettini yang memperoleh dukungan saat menghadapi masa sulit akibat cedera dan performa yang tidak konsisten. Berrettini mengatakan pengalaman Wawrinka memberinya keyakinan bahwa petenis tetap dapat mencapai hasil baik meski memasuki usia 30-an.
Selain prestasi, Wawrinka juga meninggalkan pengaruh melalui pukulan backhand satu tangan yang semakin jarang digunakan pada level tertinggi.
Petenis Italia Lorenzo Musetti menganggap Wawrinka sebagai salah satu idolanya, sementara petenis muda Swiss Henry Bernet menyebut kesempatan berlatih bersama sang juara sebagai pengalaman berharga.
Bernet, juara tunggal putra junior Australian Open 2025, menilai Wawrinka memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan pemain muda.
Wawrinka mencatatkan 12 kemenangan pada level tur setelah berusia 40 tahun sepanjang 2025-2026. Catatan tersebut menjadi bukti kegigihannya bertahan di tengah persaingan dengan petenis yang lebih muda.
Baca juga: Djokovic dan Alcaraz terima wild card untuk turnamen ATP 500 di Eropa
Baca juga: Janice Tjen tampil dominan untuk melaju ke 16 besar Guangzhou Open
Penerjemah: Arindra Meodia
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Arindra Meodia
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira