Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa mendorong diversifikasi pangan melalui pengembangan sorgum, porang, dan komoditas alternatif untuk mengurangi ketergantungan konsumsi beras masyarakat.

Menurut Saleh, diversifikasi pangan penting dilakukan sebagai strategi mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras melalui pengembangan sumber pangan alternatif yang sesuai kebutuhan konsumsi lokal.

“Memang sudah ada upaya mengganti beras dengan sorgum, porang, dan macam-macam itu," kata Wamentan Saleh dalam "3rd International Conference on Agricultural, Nutraceutical and Food Science" (ICANFS) di Universitas Tidar, Magelang, sebagaimana terkonfirmasi di Jakarta, Senin.

Wamentan saat menjawab pertanyaan Fadila, mahasiswa Aquaculture, mengenai upaya pemerintah mendorong perubahan pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia agar lebih beragam, mengatakan bahwa pengembangan sorgum, porang, dan berbagai sumber pangan alternatif lainnya terus didorong meskipun perubahan kebiasaan konsumsi membutuhkan inovasi serta pendekatan tepat.

Baca juga: Perkuat ketahanan pangan, BRIN kembangkan sosis berbasis tepung sorgum

Ia menegaskan penguatan pangan alternatif harus berjalan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar menghasilkan inovasi yang mampu mendukung keberlanjutan sistem pangan nasional.

Selain diversifikasi pangan, Wamentan juga mendorong Universitas Tidar menjajaki kerja sama dengan Kementerian Pertanian dalam penelitian kedelai dan bawang putih.

Kerja sama tersebut dapat memanfaatkan potensi agroklimat Magelang dan wilayah sekitarnya untuk mendukung pengembangan komoditas pertanian strategis serta meningkatkan produktivitas sektor pangan.

Wamentan juga mengajak mahasiswa menjadi generasi inovatif, berintegritas, dan berkontribusi bagi kemajuan pertanian nasional dengan memperkuat sektor hulu sebelum mengembangkan potensi hilirisasi pertanian.

“Jangan melihat di hilirnya saja, tetapi perkuat di hulunya,” katanya.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Muhammad Harianto

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira