Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti adanya tren menurunkan gaya hidup atau downgrading lifestyle saat ini menjadi salah satu penyebab terjadinya perubahan pada pola belanja wisatawan saat melakukan perjalanan.
"Kalau kita bicara soal perilakunya ini juga kan orang mengatakan, oh Bali wisatawan domestiknya turun. Tapi kita lihat kemudian tadi ini berkaitan dengan perilaku juga," kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa saat mengunjungi ANTARA Heritage Center (AHC) di Jakarta, Kamis (29/10).
Ni Luh menyampaikan perubahan perilaku tersebut terjadi karena masyarakat secara global mulai mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak esensial dan lebih memprioritaskan kebutuhan yang bersifat esensial.
Meski demikian, wisatawan tetap bisa melakukan perjalanan wisata dengan biaya yang telah disesuaikan. Mereka akan memilih memangkas anggaran dan memilih alternatif pilihan yang dirasa lebih hemat.
Baca juga: Wamenpar soroti pentingnya konektivitas bagi industri kebugaran
"Non-essensial termasuk berwisata itu kemudian mereka kurangi. Bukan tidak mereka lakukan, tetap mereka lakukan. Tetapi kemudian mereka pangkaslah budget-nya," ujarnya.
Ni Luh mencontohkan perubahan pilihan transportasi. Wisatawan yang sebelumnya menggunakan pesawat dapat beralih menggunakan kendaraan pribadi karena jaringan jalan tol telah terhubung, atau memilih kereta api.
Mengutip sebuah data dari PT KAI, dia menyampaikan bahwa jumlah masyarakat yang menggunakan kereta api juga mengalami peningkatan.
Kemudian, pergeseran pola belanja juga terlihat pada pilihan akomodasi. Wisatawan yang sebelumnya memilih hotel berbintang tertentu mulai beralih ke vila.
"Jadi ini pergeseran konsumsinya. Jadi villa-villa itu bertumbuh banyak sekali," kata Ni Luh.
Menurut dia, vila menjadi pilihan karena menawarkan privasi dan dapat digunakan bersama keluarga. Pertumbuhan vila, kata dia, juga terlihat di Yogyakarta.
Sementara itu, konsumsi makanan dan minuman masih menunjukkan pertumbuhan. Ni Luh mengatakan data yang dikeluarkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan sektor tersebut masih tumbuh.
"Artinya untuk makan minum kalau di kita itu kan restoran, kafe, rumah makan itu masih tumbuh. Masih terjadi pertumbuhan," ujarnya.
Hal lain yang dia sampaikan yakni jumlah perjalanan wisatawan masih mengalami pertumbuhan. Ia menyebut perjalanan wisatawan domestik tumbuh di atas 4 persen, sedangkan wisatawan mancanegara tumbuh di atas 5 persen.
Baca juga: Kemenpar fokus kembangkan kompetensi SDM di industri kebugaran
"Jadi kita melihat bahwa ada memang pergeseran. Pergeseran wisatawan dalam cara menggunakan uangnya. Tapi kalau dari jumlah perjalanan, kita lihat masih mengalami pertumbuhan," kata Ni Luh.
Sebelumnya dalam Laporan Capain Dua Tahun Sektor Pariwisata, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan pada tahun 2025 Indonesia telah menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 10,80 persen dibandingkan tahun 2024.
Angka ini telah melampaui target nasional yang semula 14 sampai 15 juta kunjungan. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.
Tren positif ini berlanjut hingga Agustus 2026 dengan perolehan 10,58 juta kunjungan wisman, menandai pertumbuhan 5,38 persen secara year-on-year (YoY), dan 842,15 juta perjalanan wisnus, tumbuh 4,29 persen secara year-on-year.
“Pertumbuhan pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat kedua di antara lima ekonomi besar Asia Tenggara,” katanya.
Ia menyebut pariwisata Indonesia kini semakin berkualitas. Pada semester I 2026, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara meningkat 6,36 persen menjadi 1.313 dolar AS atau sekitar Rp22,59 juta per kedatangan.
Pengeluaran wisatawan tersebut dibelanjakan langsung untuk berbagai kebutuhan seperti akomodasi, makan minum, cendera mata, hiburan, paket tur lokal, dan lainnya. Di mana lebih dari 95 persen usaha pariwisata digerakkan oleh UMKM.
Baca juga: Kemenpar siapkan peta jalan untuk industri kebugaran kian berkembang
Baca juga: Wisata kebugaran gerakkan ekosistem pariwisata dari hulu ke hilir
Baca juga: Kekayaan wisata kebugaran Indonesia mulai dari jamu hingga pijat
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Hreeloita Dharma Shanti
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira