Jakarta (ANTARA) - Salah satu penanda atau keunggulan Generasi 1928, sebagai generasi yang melahirkan Sumpah Pemuda, adalah kekuatan literasi mereka.
Motor Kongres Pemuda saat itu adalah para mahasiswa dan kaum terdidik lainnya yang memiliki imajinasi tentang kemerdekaan Indonesia.
Tahun- tahun yang terasa panjang, antara 1928 sampai 1945, saat Proklamasi Kemerdekaan dibacakan, mereka isi dengan kegiatan literasi melalui diskusi, propaganda, dan aksi informasi dengan menyebarkan media cetak.
Dari generasi pergerakan nasional itu, salah satunya muncul nama Sutan Sjahrir (1909-1966), yang bisa disebut sebagai penjuru dalam aspek gagasan.
Salah satu cara Sjahrir menyemai gagasan kemerdekaan adalah dengan membentuk kelompok diskusi, dan dia melibatkan generasi yang lebih muda, sehingga terbentuk komunitas intelektual kaum muda.
Beberapa intelektual muda yang dekat dengan Sutan Sjahrir menjelang kemerdekaan, di kemudian hari ada yang menjadi figur pemikir terkenal, seperti Soedjatmoko (Om Koko), Sumitro Djojohadikusumo (Pak Cum, ayah Presiden Prabowo Subianto), dan Soebadio Sastrosatomo (Om Kiuk).
Om Koko dan kawan-kawan ini penting, mengingat mereka mewakili suatu aliran tipikal dalam pembentukan sebuah tradisi intelektual, yang memberikan kontribusi khusus bagi nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan.
Wajar jika kemudian, Sjahrir (selaku Perdana Menteri 1945 -1947) selalu mengajak Pak Cum dan Om Koko dalam diplomasi dengan pihak Belanda.
Saat menjadi Perdana Menteri, Sjahrir mendorong perjuangan mempertahankan kemerdekaan melalui jalur diplomasi sebagai penyeimbang dengan operasi militer.
Tradisi intelektual
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Dr Taufan Hunneman*)
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira