Jakarta (ANTARA) - Tesla membukukan pendapatan sebesar 28.05 miliar dolar AS (setara Rp507.2 triliun) pada kuartal III 2026 atau relatif tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Arena Ev pada Jumat melaporkan bahwa laba operasi dari Tesla, berdasarkan standar akuntansi GAAP turun sebesar 43 persen menjadi 787 juta dolar AS (setara Rp14.2 triliun) di tengah ekspansi teknologi otonom dan robotika.

Model 3 dan Model Y masih menjadi kontributor utama produksi dan pengiriman Tesla. Namun, capaian keuangan perusahaan menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas bisnis belum diikuti pertumbuhan pendapatan tahunan.

Tesla mencatat arus kas bebas (free cash flow) sebesar 1,53 miliar dolar AS, dengan belanja modal mencapai 4,73 miliar dolar AS selama kuartal tersebut.

Baca juga: Tesla pamerkan Roadster generasi terbaru dengan pendorong gas dingin

Di sisi pengembangan teknologi, Tesla melaporkan sejumlah kemajuan dalam pengoperasian kendaraan otonom.

Layanan Robotaxi menggunakan Cybercab mulai mengangkut penumpang di Austin, Texas, pada 3 September 2026. Perusahaan juga menyebut akumulasi perjalanan Robotaxi tanpa pengemudi telah mendekati dua juta mil.

Di Eropa, teknologi Full Self-Driving (Supervised), yang dipasarkan dengan nama Tesla Assisted Driving, telah memperoleh persetujuan di sembilan negara Uni Eropa.

Tesla menyatakan lebih dari 100.000 pelanggan di Eropa, telah menggunakan teknologi tersebut dengan total jarak tempuh melampaui 160 juta kilometer.

Selain kendaraan penumpang, Tesla juga memperluas kegiatan industrinya. Produksi Tesla Semi dalam skala besar telah dimulai di Nevada, sedangkan fasilitas Megafactory di Texas mulai beroperasi.

Baca juga: Tesla ganti nama fitur bantuan mengemudi jadi "Assisted Driving"

Tesla turut memperkenalkan kembali Roadster, mobil sport listrik yang telah lama dinantikan, sebagai bagian dari pengembangan portofolio produknya.

Kinerja kuartal III tersebut memperlihatkan dua arah perkembangan Tesla: pendapatan yang cenderung stagnan dan laba operasi yang menyusut, di tengah upaya perusahaan memperluas bisnis kendaraan otonom, robotika, serta kendaraan listrik komersial.

Perkembangan tersebut menjadi penting untuk melihat kemampuan Tesla menjaga kinerja bisnis utamanya sekaligus membiayai pengembangan teknologi baru.

Baca juga: Tesla tiadakan fitur radio pada model mobil terbarunya

Baca juga: Tesla segarkan Model 3 dengan layar baru dan V2L untuk pasar China

Baca juga: Tesla mendapat gugatan dari pengguna Model X di AS

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Source: ANTARA · Chairul Rohman

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira