Saat permintaan domestik meningkat, Pemerintah Indonesia akan duduk bersama dengan para konsumen gas internasional dan berdiskusi untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak
Jakarta (ANTARA) - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menegaskan pemenuhan kebutuhan gas domestik menjadi prioritas bagi Indonesia, sehingga ekspor dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi.
“Kami menegaskan kepada pembeli gas internasional bahwa prioritas Indonesia adalah memenuhi kebutuhan domestik,” ujar Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam keterangan resminya yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam sesi “Global LNG Market Trends and Outlook”, yang merupakan rangkaian dari Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026.
Dalam sesi tersebut, Djoko menjelaskan bahwa Indonesia harus menyeimbangkan komitmen ekspor dengan kebutuhan dalam negeri, di mana fleksibilitas kontrak dapat membantu pihak pembeli maupun penjual dalam melakukan penyesuaian saat terjadi perubahan permintaan.
“Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, baru kami dapat melakukan ekspor. Saat permintaan domestik meningkat, Pemerintah Indonesia akan duduk bersama dengan para konsumen gas internasional dan berdiskusi untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak,” ujar Djoko.
Baca juga: Proyek LNG Blok Masela ditargetkan beroperasi paling lambat 2030
Baca juga: SKK Migas umumkan pengurangan ekspor gas ke Singapura
Komitmen Indonesia dalam membuka peluang investasi dan memperluas kemitraan di ADIPEC 2026 turut diwujudkan melalui penandatanganan empat kerja sama strategis antara perusahaan nasional dan mitra internasional di bidang jasa pengeboran, perkapalan, survei dan pemetaan, serta teknologi chemical reservoir stimulation.
Partisipasi Indonesia di ADIPEC 2026 didukung oleh 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 13 Perusahaan Dalam Negeri (PDN). Kehadiran pemerintah, KKKS, dan perusahaan nasional dalam satu paviliun menjadi wadah untuk memperkenalkan potensi serta kapabilitas industri hulu migas Indonesia kepada komunitas energi internasional.
Melalui partisipasi ini, Indonesia tidak hanya terlibat dalam pembahasan strategis mengenai masa depan pasar energi global, tetapi juga memperluas akses terhadap peluang investasi dan kerja sama internasional.
Kemitraan yang terbangun diharapkan dapat mendukung pengembangan hulu migas dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca juga: SKK Migas targetkan produksi gas North Hub 1.000 MMSCFD mulai 2028
Baca juga: Bahlil pertimbangkan permintaan pengolahan gas Andaman di KEK Arun
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Putu Indah Savitri
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira