Jakarta (ANTARA) - Shalat merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang dilakukan lima kali sehari. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, shalat juga dapat menjadi momen untuk menenangkan diri di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan sehari-hari.

Ketika menjalankan shalat, seseorang tidak hanya melakukan gerakan tubuh, tetapi juga membaca ayat Al Quran, berdoa, dan memusatkan perhatian pada ibadah. Bagi sebagian orang, rutinitas ini memberikan ketenangan sekaligus ruang untuk sejenak menjauh dari berbagai persoalan.

Lantas, benarkah shalat bisa memberikan dampak positif bagi kesehatan mental? Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara praktik shalat, perhatian penuh saat beribadah, dan kesejahteraan psikologis. Meski demikian, manfaatnya dapat berbeda pada setiap orang dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Baca juga: Rahasia manfaat dzikir setelah shalat bagi kehidupan sehari-hari

Baca juga: Inilah 8 hikmah shalat berjamaah di masjid bagi umat Muslim

1. Membantu mengelola stres

Stres merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi tekanan, tuntutan pekerjaan, masalah keluarga, atau persoalan lainnya. Namun, stres yang berlangsung terus-menerus dapat mempengaruhi kondisi emosional, konsentrasi, hingga kualitas tidur.

Bagi umat Islam, shalat dapat menjadi waktu untuk berhenti sejenak dari aktivitas harian, berdoa, dan memusatkan perhatian pada ibadah. Rutinitas tersebut berpotensi membantu seseorang merasa lebih tenang ketika menghadapi tekanan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa teknik relaksasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membantu mengelola stres dan kecemasan. Dalam konteks shalat, unsur ketenangan dan pemusatan perhatian mungkin memberikan pengalaman serupa bagi sebagian orang, meskipun keduanya tidak sepenuhnya sama.

2. Membantu menjaga kestabilan emosi

Saat menghadapi masalah, seseorang terkadang kesulitan mengendalikan kemarahan, rasa kecewa, atau kekhawatiran. Memberi jeda sebelum merespons suatu keadaan dapat membantu seseorang berpikir lebih jernih.

Shalat dapat menjadi salah satu momen untuk melakukan refleksi diri dan menata kembali pikiran. Doa dan bacaan yang dihayati juga dapat membantu sebagian orang mengingat nilai-nilai yang mereka pegang ketika menghadapi situasi sulit.

Sebuah penelitian berjudul Mindfulness in Salah Prayer and its Association with Mental Health yang diterbitkan dalam Journal of Religion and Health pada 2017 mengkaji hubungan antara perhatian penuh saat shalat dan kesehatan mental. Penelitian terhadap 174 peserta menemukan bahwa mereka yang menjalankan shalat secara rutin dan dengan perhatian penuh memiliki skor kesehatan mental yang lebih baik dibandingkan kelompok pembanding dalam penelitian tersebut.

Namun, hasil ini menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa shalat secara langsung menyebabkan perbaikan kesehatan mental. Penelitian tersebut juga menggunakan sejumlah pengukuran berdasarkan laporan peserta sendiri.

Baca juga: Bolehkah shalat sunnah saat khutbah Jumat berlangsung?

3. Memberikan rasa tenang dan makna hidup

Bagi sebagian orang, keyakinan spiritual menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi kehilangan, kegagalan, atau ketidakpastian. Shalat dapat menjadi sarana untuk berdoa, mengungkapkan harapan, dan mencari makna di balik pengalaman hidup.

Perasaan terhubung dengan keyakinan dan nilai pribadi dapat membantu seseorang menghadapi persoalan dengan sudut pandang yang berbeda. Hal ini juga berpotensi menumbuhkan harapan ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.

Meski begitu, pengalaman spiritual setiap orang berbeda. Tidak semua orang akan merasakan ketenangan yang sama setelah beribadah, terutama ketika sedang menghadapi tekanan berat.

4. Membantu membangun rutinitas harian

Shalat lima waktu memberikan struktur waktu yang teratur sepanjang hari. Bagi sebagian orang, rutinitas yang konsisten dapat membantu membagi aktivitas, menyediakan waktu untuk berhenti sejenak, dan menjaga keteraturan kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan ini dapat menjadi bagian dari upaya merawat diri, terutama jika disertai pola tidur yang cukup, aktivitas fisik, konsumsi makanan bergizi, dan hubungan sosial yang sehat.

Shalat berjamaah juga dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain. Dukungan sosial yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis.

Tetap perhatikan kesehatan mental

Walaupun shalat dapat memberikan manfaat spiritual dan berpotensi mendukung kesehatan mental, ibadah ini bukan pengganti bantuan profesional. Stres, kecemasan, atau depresi yang berkepanjangan membutuhkan perhatian sesuai kondisi masing-masing.

Jika keluhan mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, atau aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan yang kompeten.

Baca juga: Doa setelah shalat dhuha, lengkap Arab, latin, dan artinya

Baca juga: Umsura gelar Shalat Istisqa untuk mohon hujan

Baca juga: Apakah main HP saat khutbah Jumat membatalkan shalat? Ini Hukumnya

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Raihan Fadilah

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira