Tokyo (ANTARA) - Kyodo News dengan mengutip sebuah survei terkini menyebutkan bahwa serangan ransomware yang menyasar perusahaan-perusahaan Jepang mencapai total 239 kasus dari bulan Januari hingga Oktober, jumlah yang lebih dari dua kali lipat dibandingkan angka yang tercatat sepanjang tahun 2021.
Jumlah insiden yang dilaporkan hingga Oktober telah melampaui 228 kasus yang tercatat sepanjang 2025, sehingga mencetak rekor tahunan baru, menurut survei yang dirilis pada Rabu (4/11) oleh perusahaan keamanan siber Macnica, papar laporan itu.
"Jumlah kasus dapat melonjak jika serangan yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) semakin meningkat. Insiden yang melibatkan kebocoran informasi pribadi yang lebih sensitif juga dapat terjadi," kata Yutaka Sejiyama dari Pusat Penelitian Keamanan Macnica.
Ransomware merupakan jenis perangkat lunak berbahaya yang mengenkripsi data, seperti dokumen rahasia dan informasi pelanggan, sehingga data tersebut tidak dapat diakses hingga uang tebusan dibayarkan. Beberapa serangan ransomware juga melibatkan pencurian data.
Statistik Macnica mencakup serangan ransomware yang tidak melibatkan enkripsi data, ungkap laporan itu.
Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Xinhua
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira