Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 19 perenang amatir akan menyeberangi Selat Madura pada 1 November 2026 dalam gerakan "Xtreme Impact" untuk menggalang donasi bagi perempuan nelayan dan warga Desa Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah, yang terdampak abrasi dan banjir rob.

"Kami tidak berenang untuk memecahkan rekor personal. Kami berenang untuk mengubah kehidupan. Berenang menyeberangi Selat Madura hanyalah medium, tujuan sebenarnya adalah membangun jembatan harapan bagi saudara-saudara kita yang kehilangan daratan di Timbulsloko," kata penggagas Xtreme Impact Arto Biantoro dalam keterangan tertulis, Rabu.

Renang dengan rute dari Madura ke Pangkalan TNI Angkatan Laut Koarmada II Surabaya, BenihBaik.com bersama Bandar Djakarta Group menargetkan penghimpunan dana publik dapat mencapai Rp1 miliar. Donasi itu bisa diberikan melalui platform resmi BenihBaik.com dalam kampanye "Xtreme Impact: Bantu Perempuan Pesisir Demak" atau xtremeimpact.org.

Donasi akan disalurkan secara transparan dan akuntabel untuk pembangunan infrastruktur adaptif, di antaranya jalan dan jembatan apung serta fasilitas air bersih dan pembangunan rumah produksi "Omah Iwak".

Fasilitas pengolahan hasil laut itu dirancang agar perempuan nelayan Timbulsloko dapat mandiri secara ekonomi dan memiliki daya tahan menghadapi krisis iklim.

"Jadi, pada saat kita mendengar misi dari rekan-rekan dari Extreme Impact untuk melakukan serangkaian kegiatan yang untuk membantu nelayan perempuan di Kabupaten Demak, kami melihat ini bukan sekedar kegiatan amal, tapi ini adalah sebuah kegiatan yang kelihatannya memang harus kita dukung, dan Jakarta mendukung," kata Perwakilan Bandar Djakarta Wendy Santoso.

Baca juga: Pemprov Jateng kawal pembangunan "hybrid seawall" di Demak

Pendiri BenihBaik.com Andy F. Noya menambahkan, "di balik tantangan renang ekstrem ini, ada nilai kemanusiaan yang sangat menyentuh. Perempuan nelayan di sana tidak meminta belas kasihan, mereka adalah sosok-sosok tangguh yang membutuhkan fasilitas dan dukungan nyata agar bisa berdiri di atas kaki sendiri. Tugas kita adalah memastikan perjuangan mereka tidak berlangsung sendirian."

Ketua Perkumpulan Perempuan Nelayan Puspita Bahari Demak Masnu’ah menuturkan dampak krisis iklim menenggelamkan ruang hidup mereka dan menunjukkan cara warga di sana bertahan dengan solidaritas.

"Dulu, daratan itu dulu sawah terbentang luas, kebun, ladang, banyak pohon kelapa, padi. Tapi, sekarang itu berbeda," kata Masnu’ah. "Bagi kami, laut adalah ibu. Mungkin tidak hari ini perjuangan kami membuahkan hasil, tapi 10-20 tahun ke depan, kami masih tetap bisa mewariskan laut itu untuk anak cucu."

Xtreme Impact 2026 yang turut digerakkan oleh Perhimpunan Alumni Kolese Kanisius (CC92) dalam rangkaian 100 Tahun Kolese Kanisius juga merangkai aksi medis berupa Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis bagi hingga 150 pasien prasejahtera di lingkungan Koarmada II TNI AL Surabaya.

“Perayaan 100 tahun Kolese Kanisius ini kami tidak ingin hanya dengan senang-senang, tapi juga kita memberikan dampak," ucap Ketua Perkumpulan Alumni Kolese Kanisius Jakarta (PAKKJ) James W Prakarsa.

“Aksi sosial ini diharapkan tidak hanya dapat mengurangi prevalensi buta katarak di Jawa Timur, tetapi juga memberikan pengalaman baru bagi masyarakat serta mendekatkan mereka dengan TNI AL,” kata Bayu Aji perwakilan Erha Clinic.

Baca juga: Jaga pesisir Pantura, Pelindo dukung pemulihan ekosistem Mangrove di Demak

Mewakili Komandan Pusat Teritorial Angkatan Laut (Danpusteral) Kolonel Laut (P) Dr Rully Riono, Kolonel Marinir Ibnu Sri Mulyadi, M.M., M.Tr.Hanla. (Pusteral) menegaskan komitmen TNI AL dalam mendukung keandalan operasional, keselamatan, serta fasilitasi kegiatan sosial-maritim itu bagi masyarakat.

"Terkait dengan kegiatan renang, nanti juga akan mendukung, menyiapkan standar operasi dan prosedur, sehingga bisa berjalan dengan lancar, termasuk pelaksanaan bakti kesehatan di KRI SHS 990," ungkap Ibnu.

Dari sisi aspek medis perenang, Business Development Director RS Abdi Waluyo dr. Johnny Nurman, Sp.A memastikan seluruh perenang amatir telah melalui tahapan medical screening yang ketat, mencakup fungsi kardiovaskular, paru, dan ketahanan fisik.

Mira Hoeng dari Miwa Pattern turut menyiapkan desain jaket dan baju renang khusus bertema "wave of hope".

"Ini adalah lencana kehormatan dan cerita keberanian. Setiap goresan motif pada jaket ini bukan sekadar pola tekstil biasa. Ia lahir dari kisah nyata, keringat, dan keberanian luar biasa dari para perenang yang berjuang membawa gelombang kebaikan," tutup Mira Hoeng.

Baca juga: Harapan baru warga Timbulsloko Demak setelah 10 tahun alami rob

Baca juga: Gubernur: Tanam mangrove dipadu teknologi HexBricks atasi abrasi Demak

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Alviansyah Pasaribu

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira