Sleman, DIY (ANTARA) - Ada sesuatu yang ganjil dalam hubungan kita dengan alam. Kita bisa begitu khusyuk memohon hujan, tetapi kurang sungguh-sungguh menjaga hutan yang menyimpan air.
Di Kalimantan, ketika api melahap vegetasi dan asap mengusik kehidupan, doa dan ikhtiar manusia seolah berdiri di dua sisi yang berjauhan. Kita meminta alam tetap memberi, sambil kerap lupa bahwa alam juga bisa terluka.
Hutan yang terbakar bukan hanya kumpulan pohon yang kehilangan warna hijau. Di sana ada habitat yang lenyap, tanah yang kehilangan pelindung, udara yang tercemar, dan kehidupan warga yang ikut terganggu. Api mungkin padam setelah petugas bekerja keras, tetapi luka ekologis tidak selalu hilang bersama bara terakhir.
Pada Hari Santri Nasional, 22 Oktober, ironi ini layak kita bawa ke halaman pesantren, ke ruang-ruang pengajian, bahkan ke sela-sela kitab yang kita buka di atas meja. Sebab, ada sesuatu yang terasa janggal ketika seseorang begitu tekun merawat hubungannya dengan Tuhan, tetapi tidak merasa terusik menyaksikan bumi tempatnya bersujud perlahan kehilangan daya hidup.
Kita diajarkan untuk tidak menyakiti semut, tetapi sering kali tuli terhadap jeritan sungai yang mengering dan hutan yang dibabat. Apakah kesalehan kita hanya sebatas di atas sajadah, atau ia membumi hingga ke akar-akar pohon?
Baca juga: Salut Tentara Rakyat
Pertanyaan ini bukan hendak mengurangi arti ibadah ritual. Salat tetap salat, zikir tetap zikir, dan kitab suci tetap menjadi pedoman. Hanya saja, ada kemungkinan kita terlalu lama membayangkan kesalehan sebagai urusan vertikal antara manusia dan Tuhan, lalu menempatkan alam sekadar sebagai latar tempat manusia menjalankan kehidupannya.
Padahal, kita tidak pernah beribadah di luar alam. Air untuk berwudu berasal dari bumi. Udara yang mengisi paru-paru tidak diproduksi oleh kesalehan kita. Makanan yang tersaji di meja tumbuh dari tanah, hujan, dan kerja panjang makhluk hidup yang jarang masuk ke dalam percakapan kita tentang agama. Bahkan sajadah yang kita bentangkan pun mengandung cerita tentang bumi.
Mungkin di situlah kita perlu memperluas makna adab. Sebab, adab bukan hanya cara seorang murid duduk di hadapan kiai, mencium tangan guru, atau berbicara dengan suara rendah. Adab juga menyangkut bagaimana manusia memperlakukan sesuatu yang tidak bisa membalas perlakuannya, seperti sebatang pohon, seekor burung, sebidang tanah, atau sungai yang mengalir melewati desa tanpa pernah menanyakan siapa pemiliknya.
Dalam pandangan Islam, alam semesta bukan sekadar tempat kita hidup, tetapi juga penuh dengan tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Tanda-tanda ini dapat dikenali melalui dua cara: melalui wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an (disebut ayat qauliyah), dan melalui fenomena alam seperti langit, bumi, hujan, pepohonan, serta keteraturan kehidupan (disebut ayat kauniyah). Jika yang satu dibaca di dalam kitab suci, maka yang lainnya dibaca menggunakan mata, dipikirkan dengan akal, dan dirasakan dengan hati. Keduanya seharusnya berjalan beriringan dan saling melengkapi.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Dadan Ramdani
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira