Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mengatakan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AS) secara berlebihan berisiko menurunkan kemampuan berpikir kritis generasi muda, sehingga perlu adanya penyeimbang latihan kognitif.

“Jadi kalau kita menggunakan AI untuk men-training, misalnya kita diskusi sama AI-nya, itu mungkin akan bisa membantu kita. Tetapi, kalau kita menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban cepat, pasti otaknya juga tidak akan bisa berkembang,” kata Stella Christie di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, hal ini sudah dibuktikan di berbagai penelitian yang ada. Penelitian menunjukkan penggunaan AI dapat berkaitan dengan penurunan kemampuan akademik dan analisis apabila teknologi tersebut digunakan untuk menggantikan proses berpikir mandiri.

Baca juga: Evaluasi pendidikan, Wamen Stella minta kampus pahami perkembangan AI

Ia mengutip studi yang menemukan bahwa siswa yang menggunakan AI setiap hari, memperoleh skor sains lebih rendah dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah menggunakan teknologi tersebut.

Selain itu, ia juga merujuk dari penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang membandingkan kemampuan mahasiswa menulis esai dengan bantuan AI, mesin pencari internet, dan tanpa bantuan teknologi.

Menurut Stella, penelitian tersebut menunjukkan kualitas esai mahasiswa yang menggunakan AI lebih buruk dibandingkan mereka yang mengerjakan tugas tanpa bantuan AI.

Baca juga: Satu bangsa, berjuta linimasa

Ia juga mencontohkan penelitian terhadap calon dokter yang kemampuan diagnostiknya turun dari 28 persen menjadi 22 persen setelah menggunakan AI selama tiga bulan. Namun, Stella tidak merinci metode maupun konteks pengukuran dalam penelitian tersebut.

“Penggunaan AI yang seperti apa yang bisa membuat kita tambah pintar atau kurang pintar,” ucap Stella.

Sebagai ilmuwan kognitif, ia menilai otak perlu terus dilatih agar kemampuan berpikir dapat berkembang.

AI, menurut dia, tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, misalnya melalui diskusi yang mendorong pengguna menganalisis suatu persoalan.

Baca juga: Kemkomdigi ingatkan siswa tetap berpikir kritis dalam menggunakan AI

Sebaliknya, penggunaan AI hanya untuk memperoleh jawaban instan tanpa melakukan proses berpikir mandiri berisiko menghambat perkembangan kemampuan kognitif.

Stella menegaskan pendekatan terhadap penggunaan AI tidak cukup dilakukan melalui larangan. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memahami cara menggunakan teknologi tersebut secara tepat.

Di lingkungan pendidikan tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong keterlibatan mahasiswa dalam penelitian serta forum akademik yang dapat merangsang kemampuan berpikir mandiri dan menghasilkan inovasi.

Baca juga: Indonesia–India bangun koridor kreatif berbasis AI di KEK Singhasari

Selain tantangan akademik, Stella menyoroti ancaman AI terhadap peluang kerja lulusan baru. Pekerjaan seperti memasukkan data, kini dapat dilakukan AI dengan lebih cepat dan biaya lebih rendah.

Karena itu pemerintah berupaya memetakan kebutuhan tenaga kerja secara kuantitatif dan kualitatif, kemudian menyelaraskannya dengan pendidikan tinggi.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi lulusan agar sesuai dengan kebutuhan industri.

Stella menilai kolaborasi nyata antara kampus dan industri menjadi penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat.

Baca juga: Membangun kedaulatan kecerdasan untuk produktivitas ekonomi di era AI

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Chairul Rohman

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira