Bonus demografi bukanlah jaminan otomatis bagi kemajuan suatu bangsa, melainkan sebuah peluang yang harus diolah melalui pendidikan, partisipasi aktif, dan institusi politik yang terbuka.
Jakarta (ANTARA) - Dalam sepak bola, regenerasi sangat penting bagi keberlangsungan jangka panjang sebuah tim.
Ambil contoh Barcelona yang rela melepas sang legenda hidup, Lionel Messi, pada musim 2021 akibat kendala finansial dan aturan batas gaji (salary cap) dari LaLiga.
Kepindahan La Pulga nyatanya tidak membuat El Barca mati kutu. Melalui kebijakan baru berupa regenerasi bertahap yang memanfaatkan sumber daya pemain muda dari akademi La Masia, Barcelona perlahan mampu kembali bersaing dalam perebutan gelar juara.
Kebijakan regenerasi tersebut juga memunculkan nama-nama yang kini berstatus sebagai bintang kelas dunia, seperti Lamine Yamal, Pau Cubarsi, Gerard Martin, Marc Bernal, hingga yang terbaru Xavi Espart.
Berkat kebijakan yang diinisiasi oleh sang presiden, Joan Laporta, Barcelona mampu memangkas anggaran gaji secara drastis dengan mengganti pemain-pemain senior bergaji tinggi dengan talenta muda akademi.
Langkah ini sekaligus menciptakan ruang untuk pendaftaran kontrak baru. Transisi yang dilakukan Barcelona terbukti berhasil karena Blaugrana tetap mampu mendulang prestasi dalam beberapa musim terakhir.
Prestasi Barcelona selama masa transisi dari tahun 2021 hingga 2026 patut diacungi jempol. El Barca sukses meraih tiga gelar LaLiga, tiga gelar Piala Super Spanyol, dan satu Copa del Rey.
Jika sebuah negara diibaratkan sebagai klub sepak bola, rasanya politik elektoral juga memerlukan regenerasi dan transisi kepemimpinan.
Namun, apakah suatu negara saat ini sudah siap menerapkan proses regenerasi dan transisi tampuk kepemimpinan kepada para pemuda yang kini menjadi mayoritas global dari bonus demografi, yakni Generasi Z?"
Rasanya hal tersebut ibarat jauh panggang dari api.
Baca juga: Anggota DPR: Perlu perkuat peran parpol untuk regenerasi politik
Baca juga: Puan ajak pemuda dunia terlibat dalam politik
Peta politik
25 Oktober lalu, putaran kedua Pemilu Brasil menetapkan Lula da Silva (81 tahun) sebagai pemenang. Lula yang berstatus sebagai petahana mampu menang dramatis melawan senator Flavio Bolsonaro, yang sebelumnya menang dalam putaran pertama.
Lula memenangkan pemilu dengan memperoleh 64,2 juta suara atau memperoleh 51,79 persen dibandingkan Flavio Bolsonaro yang memperoleh 59,8 juta suara.
Pencapaian ini adalah sejarah baru dalam Pemilu Brasil, karena untuk pertama kalinya, seorang calon presiden yang sempat kalah di putaran pertama berhasil membalikkan keadaan dan keluar sebagai pemenang di putaran kedua.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Fajar Satriyo
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira