Jakarta (ANTARA) - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI sepakat bekerja sama untuk memperkuat ekosistem informasi nasional, meningkatkan literasi publik, serta menjaga keberlangsungan industri pers di tengah persaingan dengan platform digital global.

Ketua Umum PWI Akhmad Munir di Jakarta, Rabu, mengatakan wartawan berperan penting sebagai tulang punggung dalam memberikan literasi informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat.

Dia mengatakan penguatan kompetensi, etik dan kualitas wartawan perlu menjadi perhatian bersama.

Akhmad Munir yang bertemu dengan Kepala Bakom RI Syahganda Nainggolan di Ruang Rapat PWI Pusat, Lantai 4 Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa (3/11), berpendapat perkembangan teknologi informasi membuat siapa pun dapat memproduksi dan menyebarkan informasi.

Kondisi tersebut menuntut wartawan untuk tetap menjaga kompetensi, etika serta memegang teguh kaidah jurnalistik.

Baca juga: Direktur eksekutif baru LPDS soroti tantangan pers di era AI

"Di tengah situasi yang serba instan seperti sekarang, siapa pun bisa menjadi wartawan, siapa pun bisa menjadi redaktur, dan siapa pun bisa menjadi produser. Di sinilah pentingnya penguatan kompetensi dan etika wartawan," kata Akhmad Munir.

Dia juga menekankan pentingnya koordinasi antara sumber informasi pemerintah dan wartawan. Bakom dinilai memiliki sumber data dan informasi mengenai kebijakan pemerintah yang dapat disampaikan kepada masyarakat melalui jaringan media.

Dengan koordinasi tersebut, informasi mengenai kebijakan dan implementasi program pemerintah diharapkan dapat tersampaikan berdasarkan data, fakta, dan waktu yang tepat sehingga mengurangi kesimpangsiuran informasi di ruang publik.

Selain penguatan kompetensi dan koordinasi informasi, Akhmad Munir menyoroti perlunya kehadiran negara untuk memperkuat industri pers nasional. Industri pers saat ini menghadapi tekanan dari platform digital global, persaingan bisnis lokal, serta perubahan pola konsumsi masyarakat.

Baca juga: Wamenaker tekankan keterampilan digital dan pelindungan pers di era AI

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penerapan publisher rights atau hak penerbit. Perjuangan untuk memberikan perlindungan terhadap produk jurnalistik perlu dilanjutkan agar industri pers mendapatkan kesetaraan nilai ekonomi dengan platform digital.

"Padahal, yang kita inginkan adalah adanya kesetaraan dalam menentukan nilai ekonomi atas produk jurnalistik. Sementara itu, kita masih belum memiliki kekuatan yang cukup untuk memperjuangkan hal tersebut. Ini merupakan perjuangan panjang," ujarnya.

Akhmad Munir menambahkan, PWI memiliki jaringan yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia dengan jumlah anggota hampir 35 ribu wartawan. Jaringan tersebut dapat menjadi kekuatan untuk memperluas penyebaran informasi sekaligus meningkatkan literasi masyarakat hingga tingkat daerah.

“DNA PWI adalah organisasi wartawan yang memiliki nilai kejuangan dan perjuangan. PWI dilahirkan oleh wartawan-wartawan pejuang yang turut mengantarkan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Nilai-nilai perjuangan itu terus kita jaga dan relevansikan hingga masa mendatang,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Bakom RI Syahganda Nainggolan menyambut baik peluang kerja sama dengan PWI. Dia menilai kolaborasi dengan insan pers penting untuk menghadapi perubahan ekosistem komunikasi dan informasi yang semakin dipengaruhi perusahaan teknologi besar (big tech).

Baca juga: Wamenkomdigi ingatkan pers sajikan informasi yang jelas dan akurat

Syahganda mengatakan, perkembangan media sosial dan algoritma platform digital telah mengubah pola persebaran informasi di ruang publik.

Informasi yang disampaikan melalui media arus utama tidak selalu menjadi perhatian utama masyarakat karena percakapan di media sosial dapat berkembang dengan arah berbeda.

“Sekarang, tren big data tersebut sudah dikombinasikan dengan ChatGPT dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Dunia menjadi semakin canggih,” katanya.

Dia mencontohkan informasi mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebarkan secara luas. Namun, menurutnya, informasi yang kemudian ramai berkembang di media sosial dengan algoritmenya justru yang terekspos luas berkaitan dengan kasus keracunan.

"Itu merupakan dunia baru yang harus kita pahami. Kita tidak bisa melawan kekuatan platform begitu saja," kata Syahganda.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Aditya Ramadhan

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira