Jakarta (ANTARA) - Menghadapi kritik, penolakan, atau sikap tidak menyenangkan dari orang lain dapat memengaruhi kepercayaan diri dan suasana hati seseorang. Namun, seseorang dapat belajar mengelola respons emosional agar tidak selalu menganggap perilaku orang lain sebagai serangan pribadi.
Psikolog klinis Michelle P. Maidenberg, Ph.D., MPH, LCSW-R menjelaskan bahwa kebiasaan menganggap segala sesuatu secara pribadi sering kali berkaitan dengan rasa tidak aman, pengalaman hubungan masa lalu, serta kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan sosial.
Melansir dari laman Psychology Today pada Selasa (3/11) waktu setempat, seseorang terkadang membiarkan kritik, ketidaksetujuan, atau sikap tidak responsif orang lain menentukan bagaimana mereka memandang dirinya sendiri.
Maidenberg menyarankan seseorang memahami bahwa tidak semua orang akan menyukai dirinya. Setiap orang memiliki preferensi, nilai, dan kepribadian berbeda sehingga penolakan tidak selalu mencerminkan kekurangan pribadi.
Baca juga: Putus cinta, ini kiat menyikapi rasa sedih karena patah hati
Baca juga: Ahli: Bergaul penting guna atasi emosi akibat kampanye di medsos
Seseorang juga perlu menyadari bahwa dirinya tidak dapat membaca pikiran orang lain. Sikap diam atau respons yang kurang ramah tidak selalu berarti orang tersebut sedang marah atau tidak menyukai kita.
Selain itu, kritik dan sikap kasar terkadang mencerminkan persoalan emosional orang yang menyampaikannya, seperti rasa tidak aman, frustrasi, atau pengalaman yang belum terselesaikan.
Maidenberg juga menyarankan agar seseorang mengamati emosi negatif orang lain tanpa ikut menyerapnya. Seseorang tetap dapat menunjukkan empati tanpa harus mengambil alih perasaan atau suasana hati orang lain.
Suasana hati buruk seseorang juga tidak selalu berkaitan dengan dirinya. Kelelahan, stres, dan persoalan pribadi dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi.
Dalam menghadapi penolakan, seseorang perlu memahami bahwa pengalaman tersebut tidak menentukan nilai dirinya. Ketidakcocokan, perbedaan kebutuhan, dan waktu yang tidak tepat dapat menjadi alasan seseorang tidak diterima dalam suatu hubungan.
Di sisi lain, respons orang lain tetap dapat menjadi bahan evaluasi terhadap hubungan dan komunikasi. Seseorang perlu mengakui kesalahan serta memperbaiki interaksi apabila memang diperlukan.
Maidenberg turut mengingatkan pentingnya menjaga energi emosional dengan membatasi kebiasaan memikirkan percakapan secara berulang, mengantisipasi penolakan, atau terus berusaha mengubah pandangan orang lain.
Ia menekankan bahwa seseorang tetap dapat terpengaruh oleh perilaku orang lain tanpa harus membiarkan perilaku tersebut menentukan cara mereka memandang diri sendiri.
Baca juga: Mengapa berbagi bisa membuat seseorang merasa lebih bahagia?
Baca juga: Psikolog jelaskan tanda "micro-cheating" yang dapat kikis kepercayaan
Baca juga: Psikolog: Menunda pekerjaan tidak selalu buruk bagi kreativitas
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Farika Nur Khotimah
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira