Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis Meiri Dias Tuti, M.Psi., Psikolog mengemukakan bahwa orang tua perlu membangun koneksi dengan anak menjadi salah satu langkah persuasif untuk menggunakan media sosial (medsos) seperlunya.

“⁠Bangun koneksi agar bisa bicara baik-baik untuk tidak boleh menghabiskan waktu main medsos, konten negatif dan pornoaksi,” kata Meiri ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Rabu.

Meiri mengatakan orang tua dapat mendorong anak mengikuti berbagai kegiatan di dunia nyata, terutama olahraga dan aktivitas lain yang sesuai dengan minat mereka. Dengan demikian, remaja memiliki pilihan kegiatan atau kesibukan lain selain bermain ponsel.

Ia menilai anak yang minim menggunakan media sosial tetap bisa terhubung dengan teman-temannya. Hal ini dapat didukung melalui kebiasaan mengobrol antara orang tua dan anak, misalnya dengan membahas berita yang sedang ramai diperbincangkan dan saling berbagi cerita tentang pengalaman anak di sekolah.

“Buat peraturan untuk tidak memberi gadget bagi anak sekolah dasar atau gadget untuk remaja dengan tidak memakai password karena itu milik orang tua,” kata psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia dalam Himpunan Psikologi Indonesia itu.

Baca juga: Pendekatan orang tua bantu remaja dalam batasan penggunaan medsos

Orang tua juga perlu mewaspadai perubahan perilaku anak yang bisa menjadi tanda kemungkinan adanya tekanan psikologis akibat media sosial, seperti mudah emosi negatif yakni marah, agresif, perubahan sikap drastis dari biasanya.

Kepedulian orang tua menjadi salah satu langkah dalam menumbuhkan kesadaran pada anak terkait pembatasan penggunaan media sosial terutama demi kesehatan mental.

Menurut Meiri, jika orang tua peduli dengan anak, maka akan mudah dan tegas untuk membatasi agar tidak menggunakan media sosial.

“Terlebih sebenarnya akun-akun media sosial diperuntukkan anak mulai 17 tahun, sehingga tugas orang tua untuk melarang anak-anaknya untuk memiliki akun media sosial dan aktif mengetahui tontonan anak,” tutur dia.

Sebelumnya, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Senin (19/10) mengatakan teknologi berkembang begitu cepat, dan kini smartphone serta media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja.

Namun di balik kenyamanan itu, ada harga mahal yang harus dibayar, yakni kesehatan jiwa generasi muda yang semakin terancam. Laporan APJII 2026 mencatat penetrasi internet telah mencapai lebih dari 80 persen populasi, dengan dominasi generasi muda.

Kementerian Kesehatan menyebutkan dari 71 juta penduduk diperiksa hingga Oktober dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) tercatat ada lebih dari 380 ribu anak dengan indikasi depresi dan hampir 380 ribu dengan indikasi kecemasan.

Baca juga: Berkaca dari Indonesia, Malaysia siapkan verifikasi usia pengguna medsos

Baca juga: Menkomdigi minta PSE prioritaskan akuntabilitas tentang algoritma

Baca juga: Apa itu digital detox dan apa manfaatnya?

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Sri Dewi Larasati

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira