Jakarta (ANTARA) - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkirakan kebutuhan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) untuk pembangkit listrik pada 2027 berada di kisaran 120 kargo.

“Tahun ini 108 kargo, tahun depan 120 kargo. Insyaallah,” ujar Plh. Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto dalam acara Mineral and Batu bara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa.

Rakhmad menjelaskan bahwa penggunaan LNG untuk memenuhi kebutuhan gas pada pembangkit listrik dipengaruhi oleh lapangan gas yang mulai menua.

Ia menyoroti penurunan produksi gas pipa dari lapangan-lapangan yang cukup tua. Oleh karena itu, PLN EPI menggunakan LNG sebagai penggantinya.

Adapun volume gas yang dikonsumsi oleh PLN EPI pada 2026 diperkirakan mencapai 1.374 juta kaki kubik. Volume tersebut sudah termasuk gas dari kargo LNG.

“Angka ini adalah 40 persen dari kebutuhan domestik nasional untuk gas. Jadi, kami adalah pembeli gas terbesar,” ujar Rakhmad.

Selain menggunakan gas untuk memasok pembangkit listrik, Rakhmad juga menyampaikan bahwa PLN EPI juga berperan dalam memastikan kecukupan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Ia menjelaskan bahwa batu bara yang dikelola oleh PLN EPI mengalami tren peningkatan dari sekitar 67 juta ton pada 2023 menjadi 97 juta ton pada 2026.

“Ini yang dikelola oleh PLN EPI. Tetapi sebenarnya yang dibutuhkan oleh PLN itu ada tambahan 60 juta. Jadi sekitar 150 juta ton,” ujar Rakhmad.

Lebih lanjut, PLN EPI juga memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) cukup untuk memasok pembangkit listrik yang masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Rakhmad mencatat pulau-pulau kecil di wilayah Indonesia Timur banyak yang menggunakan PLTD, sebab pembangunan PLTU terlalu besar dan mahal untuk memasok listrik ke pulau-pulau kecil tersebut.

Untuk kebutuhan BBM, Rakhmad menyampaikan kisarannya berada di angka 4,6 juta kiloliter.

Selain itu, Rakhmad menyampaikan PLN EPI juga memanfaatkan biomassa untuk memasok pembangkit listrik. Biomassa, kata dia, bisa berasal dari serbuk gergaji, jerami, cacahan sawit, tandan kosong, dan lain-lain.

“Tahun ini, kita 2,4 juta ton. Ke depan, targetnya ini kalau yang biomassa sampai 8 atau 10 juta di 51 titik PLTU di Indonesia,” ujar Rakhmad.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengamankan pasokan LNG dari Wilayah Kerja (WK) Masela sebesar 2,5 juta ton per tahun (million tonnes per annum/MTPA) untuk jangka waktu 18 tahun.

Pasokan LNG sebesar 2,5 juta ton per tahun tersebut setara sekitar 40 kargo LNG per tahun. Pasokan keseluruhan setara 600 kargo LNG (37,5 MT) ditargetkan mulai akhir 2030 akan mendukung pemenuhan kebutuhan gas pembangkit PLN Group di berbagai wilayah Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain WK Masela, PLN EPI juga memperkuat diversifikasi sumber pasokan LNG melalui pengembangan portofolio South Hub yang bersumber dari sejumlah wilayah kerja migas, yakni Muara Bakau, East Sepinggan, Ganal, dan West Ganal.

Pasokan South Hub direncanakan berlangsung pada periode 2027–2037 dengan total volume sekitar 191 kargo LNG (11,2 MT).

Pengembangan berbagai sumber pasokan domestik ini merupakan bagian dari strategi PLN EPI dalam membangun portofolio pengadaan LNG yang terdiversifikasi dan berkelanjutan.

Baca juga: PLN EPI amankan pasokan LNG dari WK Masela untuk 18 tahun

Baca juga: PGN LNG terima 25 kargo per September, perkuat pasokan energi nasional

Baca juga: Proyek LNG Blok Masela ditargetkan beroperasi paling lambat 2030

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Putu Indah Savitri

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira