Bangunan ini juga mencerminkan pandangan hidup masyarakat Karo tentang hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual
Bandung (ANTARA) - Di dataran tinggi Karo, Sumatera Utara, masih berdiri sejumlah rumah adat berusia ratusan tahun yang menjadi saksi perjalanan panjang budaya masyarakat setempat. Salah satunya dapat ditemukan di Desa Lingga, sebuah desa budaya yang dikenal sebagai tempat pelestarian rumah adat Karo Siwaluh Jabu.
Beberapa peneliti dan pemerhati budaya menyebut bahwa pada masa lalu jumlah rumah adat Karo di sana jauh lebih banyak dibandingkan saat ini. Seiring berjalannya waktu, sebagian bangunan rusak, ditinggalkan penghuninya, atau menghilang akibat keterbatasan pemeliharaan.
Kini, rumah adat yang masih bertahan dapat dihitung dengan jari.
Keberadaan rumah adat Karo di sejumlah desa lain juga menyusut. Ada juga yang dipindahkan ke lokasi lain untuk tujuan preservasi dan edukasi publik agar warisan arsitektur tersebut tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberadaan Siwaluh Jabu menghadapi tantangan serius di tengah arus modernisasi.
Rumah-rumah adat berusia ratusan tahun yang masih berdiri di Tanah Karo itu bukan hanya mahakarya arsitektur tradisional, tetapi juga menyimpan simbol, kosmologi, dan keteraturan yang menarik untuk dibaca dari sudut pandang yang tidak biasa.
Selama ini, rumah adat Karo sering dibahas sebagai warisan budaya yang mencerminkan gotong royong, sistem kekerabatan, dan identitas masyarakat Karo. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa di balik bentuk bangunannya yang khas tersimpan pola-pola yang dapat dianalisis melalui perspektif etnomatematika, yakni kajian tentang hubungan antara matematika dan budaya.
Kosmologi dalam Sebuah Bangunan
Dalam bahasa Karo, siwaluh jabu berarti delapan keluarga. Nama itu Siwaluh Jabu merujuk pada fungsi rumah sebagai tempat tinggal bersama bagi delapan keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan.
Tidak seperti rumah modern yang dirancang untuk satu keluarga inti, Siwaluh Jabu menjadi simbol kehidupan komunal yang menekankan kebersamaan dan kerja sama.
Bangunan ini berdiri di pada panggung kayu dengan atap besar menjulang. Menariknya, konstruksi tradisional tersebut dibangun tanpa menggunakan paku, melainkan memanfaatkan sistem pasak dan ikatan yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu bertahan selama ratusan tahun.
Keunikan Siwaluh Jabu tidak berhenti pada teknik konstruksinya. Bangunan ini juga mencerminkan pandangan hidup masyarakat Karo tentang hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual.
Bagi masyarakat tradisional Karo, rumah bukan sekadar tempat berteduh. Rumah juga menjadi representasi alam semesta dalam skala yang lebih kecil.
Secara simbolis, bangunan Siwaluh Jabu terbagi menjadi tiga bagian utama. Bagian bawah rumah merepresentasikan dunia bawah yang berkaitan dengan kehidupan profan dan penunjang aktivitas sehari-hari seperti tempat menyimpan kayu bakar, peralatan bertani, dan kandang ternak.
Bagian tengah adalah ruang kehidupan manusia. Sementara atap yang menjulang tinggi melambangkan dunia atas yang berhubungan dengan kekuatan spiritual dan leluhur.
Pembagian ruang semacam ini menunjukkan bahwa arsitektur tradisional Karo dibangun tidak hanya berdasarkan pertimbangan teknis, tetapi juga berdasarkan sistem nilai dan kepercayaan yang diwariskan turun-temurun.
Pesan dan kode matematika
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Iwan Santosa *)
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira