Jakarta (ANTARA) - Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menilai rencana pemerintah memberikan insentif lebih besar bagi kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel perlu dikaji dengan mempertimbangkan perkembangan teknologi dan keterjangkauan harga kendaraan.
Ketua Umum Periklindo Moeldoko mengatakan pengembangan baterai kendaraan listrik tidak seharusnya dibatasi pada satu jenis material, meskipun Indonesia memiliki sumber daya nikel yang melimpah.
“Apakah materialnya itu harus dari nikel? Menurut saya tidak bisa dipaksakan seperti itu,” kata Moeldoko kata Moeldoko pada konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, pengembangan teknologi baterai perlu mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, biaya produksi, serta kemampuan baterai dalam memenuhi kebutuhan pengguna, termasuk kecepatan pengisian daya dan jarak tempuh kendaraan.
Baca juga: Bahlil ungkap strategi insentif NMC pacu mobil listrik berbasis nikel
Baca juga: Menperin sebut insentif EV akan diprioritaskan mobil merek nasional
Moeldoko mengatakan industri baterai dalam negeri tetap diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan nikel. Namun, perkembangan teknologi yang berlangsung cepat membuat riset baterai perlu terbuka terhadap material alternatif yang lebih mudah diperoleh dan menawarkan biaya lebih rendah.
Senada, Wakil Ketua Umum Periklindo Bidang Pengembangan dan Penelitian, Prabowo Kartoleksono menilai ketepatan kebijakan insentif sebaiknya tidak hanya mengutamakan kendaraan dengan material baterai tertentu.
Menurut Prabowo, kebijakan tersebut perlu memperhitungkan perkembangan teknologi baterai alternatif, terutama lithium iron phosphate (LFP), yang tidak menggunakan nikel sebagai material utama katodanya.
Ia menjelaskan, baterai LFP kini memiliki kepadatan energi yang semakin mendekati baterai berbasis nikel, mangan, dan kobalt atau nickel manganese cobalt (NMC), dengan biaya yang lebih rendah.
“Mungkin dulu teknologi pada kepadatan energi, LFP tidak sebaik NMC, namun sekarang kepadatan energinya sudah setara, tapi harganya 30 persen lebih murah,” kata Prabowo.
Selain LFP, baterai berbasis natrium atau sodium-ion bahkan juga tengah dikembangkan menjadi alternatif lain dalam industri kendaraan listrik dunia saat ini, menurut Prabowo.
Baca juga: Airlangga sebut insentif EV akan dikaitkan program mobil nasional
Menurut dia, apabila insentif lebih besar hanya diberikan kepada kendaraan yang menggunakan baterai berbasis nikel, produsen dapat kehilangan keleluasaan memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan kemampuan konsumen.
Prabowo menilai persoalan tersebut penting terutama bagi kendaraan listrik yang sensitif terhadap harga, seperti sepeda motor listrik. Ia mengingatkan penggunaan baterai yang lebih mahal dapat menambah tekanan terhadap harga jual, sementara produsen masih menghadapi tantangan untuk memperluas penjualan.
"Sementara kalau ingin mendapatkan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) itu harus pakai baterai nikel, baterai nikel itu sangat mahal," ujar Prabowo.
Di lain sisi, Prabowo menilai pengembangan baterai solid-state dapat menjadi salah satu peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah cadangan nikel melalui penguasaan teknologi baterai generasi baru.
Menurut dia, teknologi tersebut layak dipertimbangkan karena memiliki kepadatan energi tinggi dan menggunakan nikel, sehingga dapat menjadi salah satu arah pengembangan industri baterai nasional.
"Saat ini teknologi baterai solid-state itu bisa pakai nikel. Jadi kalau memang Indonesia mau masuk ke sana, masuklah ke teknologi solid-state baterai, selagi itu masih teknologi yang baru," jelas Prabowo.
Diketahui, pemerintah RI tengah mematangkan pemberian insentif untuk pembelian kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di dalam negeri guna merangsang daya beli.
Salah satu skema yang sedang dipertimbangkan ialah pemberian insentif lebih besar bagi mobil listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong pemanfaatan sumber daya mineral dalam negeri sekaligus memperkuat industri baterai nasional.
Baca juga: Periklindo dorong insentif kendaraan komersial listrik
Baca juga: Pengamat nilai mobil listrik opsi terdepan untuk ketahanan energi
Baca juga: Ekonomi sepekan, harga bensin turun hingga arah insentif EV
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Source: ANTARA · Pamela Sakina
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira