Buku boleh jadi tetap menyimpan pengetahuan, tetapi citra sebagai "orang yang membaca" kini telah memiliki nilai sosial dan ekonominya tersendiri.
Jakarta (ANTARA) - Syahdan, semasa sekolah kita mencari pengetahuan, salah satunya melalui buku.
Begitulah hakikatnya buku, hingga muncul peribahasa bahwa "buku adalah jendela dunia".
Namun, akhir-akhir ini saya melihat adanya pergeseran simbolik mengenai buku, terutama dari aktivitas para pengguna media sosial di Threads.
Di aplikasi buatan Meta Platforms, Inc. —induk perusahaan Instagram— kita dapat menemukan beragam aktivitas pengguna yang menawarkan jasa joki baca buku.
Layanan yang ditawarkan bukan sekadar membaca buku, melainkan mencakup pembuatan anotasi, tiga foto estetik untuk kebutuhan media sosial, hingga perolehan merchandise menarik seperti pembatas buku (bookmark).
Tarif yang dipatok pun cukup beragam, berkisar antara Rp700.000 hingga Rp1.600.000 untuk berbagai genre buku, baik fiksi maupun nonfiksi, dengan ketebalan 100 hingga 800 halaman.
Buku yang dahulu menjadi tangga menuju pengetahuan kini mengalami pergeseran fungsi menjadi komodifikasi identitas pembaca, mengekor fenomena serupa yang sebelumnya terjadi pada tren olahraga lari.
Di sisi lain, media sosial memang menawarkan pengalaman baru dalam membaca, mulai dari terbentuknya komunitas khusus hingga keterhubungan antarpengguna melalui tagar. Uniknya, seluruh proses ini melahirkan dimensi sosial baru dalam memaknai aktivitas membaca buku.
Mencari representasi
Manusia zaman sekarang berbondong-bondong mencari representasi diri yang ingin dilekatkan dengan citra tertentu di media sosial.
Baca juga: Gagap sastra di ruang digital
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Fajar Satriyo
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira