Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kebudayaan hingga kini masih melakukan upaya rehabilitasi atau perbaikan pada situs dan cagar budaya yang terdampak bencana Sumatra.
“Sudah (dilakukan), sudah proses ini, banyak aktivitas (perbaikan) di tiga provinsi di Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara,” ujar Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Restu menambahkan bahwa proses rehabilitasi berbagai situs dan cagar budaya yang terdampak bencana di Aceh dan Sumatra ditargetkan tahun ini selesai namun bila memang mengharuskan perpanjangan waktu dalam prosesnya, maka akan terus dilakukan hingga tahun depan.
“Targetnya tahun ini selesai, tapi (kalau belum selesai), nanti tahun depan dilanjutkan lagi,” tegasnya.
Baca juga: Kemenbud tinjau pemulihan 81 sistus cagar budaya di Pidie Jaya
Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan kelanjutan program pemulihan ekosistem budaya pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Persiapan ini mencakup rencana perbaikan rumah maestro, penyelamatan cagar budaya dan manuskrip kuno, revitalisasi museum, serta rehabilitasi bangunan dan fasilitas kebudayaan yang terdampak bencana serta diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan terhadap risiko bencana pada masa mendatang dengan menekankan agar anggaran rehabilitasi pascabencana mempertimbangkan kebutuhan konkret di lapangan.
“Anggaran rehabilitasi bencana harus direncanakan seefektif dan setepat mungkin. Kita perlu mengutamakan kebutuhan konkret di lapangan, bukan hanya kajian. Sejak tahap persiapan, kita juga harus memikirkan langkah antisipasi yang sesuai dengan risiko di setiap lokasi, sehingga anggaran yang tersedia dapat memberikan manfaat nyata,” katanya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Lita Rahmiati, menjelaskan bahwa rencana pemulihan di Aceh mencakup sejumlah objek dan fasilitas kebudayaan yang meliputi perbaikan rumah maestro, rehabilitasi sarana kebudayaan, serta penyelamatan objek dan sumber pengetahuan budaya yang terdampak bencana.
Di Aceh, rencana perbaikan rumah maestro mencakup 112 unit yang tersebar di sekitar 18 kabupaten/kota. Para maestro yang menjadi sasaran program antara lain Maestro Saman, Maestro Canang Ceureukeh dan Rapai Uroh, hingga Maestro Rapa’i Bandar Khalifah.
Baca juga: Menbud dorong penetapan Cagar Budaya Leang Bulu Sipong
Persiapan rekonstruksi dan rehabilitasi fisik juga mencakup sarana dan prasarana pacuan kuda tradisional serta Rumah Peradaban Gayo di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.
Melalui rencana pemulihan tersebut, arena pacuan kuda diharapkan dapat kembali dimanfaatkan sebagai sarana olahraga tradisional, sementara Rumah Peradaban Gayo dapat mendukung kegiatan kebudayaan masyarakat.
Pada aspek pelindungan cagar budaya, rencana pemulihan mencakup 314 objek cagar budaya (CB) dan objek diduga cagar budaya (ODCB) terdampak bencana yang tersebar di 18 kabupaten/kota di Aceh.
Persiapan revitalisasi museum juga diarahkan pada Museum Kota Langsa dan Museum Nurul ‘Ala di Kabupaten Aceh Timur, dengan rencana kegiatan berupa pengkajian koleksi, konservasi koleksi, dan penataan ulang tata pameran.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan tingkatkan penetapan cagar budaya nasional
Baca juga: Kisah keemasan Sriwijaya dapat dilihat di Museum Nasional Indonesia
Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Sinta Ambarwati
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira