Kabar itu bagaikan anugerah dari langit bagi pasar saham, yang belakangan semakin tertekan oleh naiknya harga minyak
Jakarta (ANTARA) - Harga minyak dunia serempak turun dalam sehari terakhir, tepat menjelang Amerika Serikat menggelar Pemilu Sela pada 4 November.
Dalam penutupan perdagangan saham pada Senin, harga minyak turun pada level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Harga minyak mentah patokan internasional, Brent, terpangkas 7,6 persen pada 104,77 dolar AS per barel atau sekitar Rp11.605 per liter.
Penurunan harga itu adalah penurunan harga minyak terbesar dalam satu hari sejak 27 Juli 2026.
Penurunan itu terjadi setelah pasar mendengar kabar ada kemajuan besar dalam perundingan damai antara Iran dan AS untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung delapan bulan, yang dampaknya telah mengganggu pasokan minyak dunia sehingga menaikkan harga energi global.
Pada hari itu juga kantor berita IRNA melaporkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayotallah Mojtaba Khamenei telah memberi lampau hijau kepada pemerintah Iran untuk mengakhiri perang dengan cara dialog.
Pernyataan itu itu memesankan bahwa kelompok garis keras Iran yang selama ini menentang perundingan damai dengan AS, kini malah mendorong pemerintah Presiden Pezeshkian untuk merespons tawaran damai dari pemerintah Presiden Donald Trump di AS.
Pernyataan Khamenei juga menjadi faktor terbesar yang membuat investor pasar ekuitas global meyakini Perang Iran bakal segera berakhir dan AS-Iran akan segera menandatangani perjanjian damai.
"Kabar itu bagaikan anugerah dari langit bagi pasar saham, yang belakangan semakin tertekan oleh naiknya harga minyak," kata Chris Beauchamp, analis pada perusahaan pasar modal IG, seperti dikutip The Guardian pada Senin (2/11).
Dalam perdagangan ekuitas pada Senin, bursa-bursa AS dan Eropa umumnya memang terkerek naik oleh kabar kemajuan dalam negosiasi damai antara AS dan Iran, termasuk indeks Dow Jones yang naik 213 poin menjadi 51.983 poin.
Kendati demikian, Beauchamp mengingatkan harga minyak bisa melonjak lagi jika Trump menyerang lagi Iran setelah Pemilu Sela usai.
Namun paling tidak sampai Pemilu Sela digelar, pasar energi akan terus diliputi sentimen positif oleh kabar kemungkinan segera berakhirnya Perang Iran-AS.
Baca juga: Rupiah menguat seiring penurunan harga minyak dunia yang cukup besar
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Jafar M Sidik
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira