Shanghai (ANTARA) - China kini menjadi pusat produksi global dan sumber utama permintaan global, dengan kapasitas yang terus meningkat untuk menyerap barang dari seluruh dunia, menurut sebuah laporan yang dirilis pada hari Kamis di Shanghai, China timur.
Laporan Pengembangan Kapasitas Ekspor ke China, yang dirancang untuk membantu negara lain meningkatkan ekspor ke China, diluncurkan pada Forum Ekonomi Internasional Hongqiao kesembilan, yang diadakan sebagai bagian dari Pameran Impor Internasional China (CIIE) kesembilan yang baru saja dibuka.
Seiring dengan meningkatnya pendapatan rumah tangga dan pergeseran pola konsumsi ke arah barang dan jasa berkualitas lebih tinggi, Tiongkok memiliki ruang yang cukup besar untuk memperluas impor produk premium, teknologi canggih, dan jasa, menurut laporan tersebut.
Komposisi impor Tiongkok telah berevolusi dari yang sangat didominasi oleh barang manufaktur menjadi struktur yang lebih beragam, mencakup produk industri, energi dan bahan baku, serta komoditas pertanian, ungkap laporan itu.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa meningkatnya permintaan Tiongkok untuk barang manufaktur kelas atas dan komoditas primer menawarkan pasar inklusif bagi perekonomian pada berbagai tahap pembangunan.
Laporan itu disusun bersama oleh Institut Ekonomi dan Politik Dunia di bawah naungan Akademi Ilmu Sosial Tiongkok serta Divisi Perdagangan Internasional dan Komoditas dari Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD).
Laporan tersebut juga mengkaji kinerja ekspor dari 10 mitra dagang Tiongkok, termasuk Kolombia, Kenya, Spanyol, Thailand, dan Inggris, menilai potensi mereka di pasar Tiongkok dan menawarkan rekomendasi tentang cara meningkatkan ekspor ke Tiongkok.
Laporan Keterbukaan Dunia (World Openness Report) 2026 juga dirilis dalam forum ini, memperingatkan bahwa keterbukaan global berada di bawah tekanan yang semakin meningkat di tengah meningkatnya proteksionisme perdagangan, meluasnya konflik geopolitik, dan restrukturisasi mendalam rantai industri global.
Pada 2025, Indeks Kebijakan Keterbukaan Global berada di angka 0,7448, turun 1,09 persen secara tahunan (year on year), sementara Indeks Kinerja Keterbukaan turun 0,9 persen menjadi 0,7458, membalikkan pemulihan yang tercatat pada 2023 dan 2024, menurut Laporan Keterbukaan Dunia 2026.
Pewarta: Xinhua
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Xinhua
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira