Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerapkan teknologi imersif secara bertahap di museum-museum yang dinaunginya, termasuk Museum Tekstil dan Museum Seni Rupa dan Keramik.
“Museum Tekstil maupun Museum Seni Rupa dan Keramik secara bertahap, dengan mempertimbangkan karakteristik koleksi, kebutuhan pengunjung, kesiapan infrastruktur, serta ketersediaan anggaran,” kata Kepala Unit Pengelola (UP) Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Sri Kusumawati saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan teknologi imersif di museum yang berada di bawah pengelolaan Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta baru diterapkan di Museum Wayang.
Di Museum Wayang, teknologi imersif dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman visual dan audiovisual yang memungkinkan pengunjung menikmati pertunjukan serta mengenal cerita dan karakter pewayangan melalui pendekatan yang lebih modern dan menarik.
Sementara itu, di Museum Tekstil, mulai dikembangkan pemanfaatan teknologi digital melalui permainan interaktif (interactive game) sebagai salah satu media edukasi bagi pengunjung.
Baca juga: DKI manfaatkan teknologi di museum untuk tarik pengunjung
Sri menuturkan teknologi permainan interaktif di Museum Tekstil lebih menekankan pada partisipasi aktif pengunjung dalam proses pembelajaran, sehingga pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga dapat berinteraksi dengan materi edukasi yang disajikan secara digital.
“Perbedaan utamanya (antara teknologi imersif di setiap museum) terletak pada pendekatan pengalaman pengunjung,” ujar Sri.
Menurut dia, teknologi imersif lebih menekankan pada pengalaman audiovisual yang membangun suasana seolah-olah pengunjung berada di dalam cerita, sedangkan permainan interaktif lebih mengutamakan keterlibatan langsung pengunjung melalui aktivitas digital.
Terkait aspek teknis, di antaranya sudut proyeksi, cakupan visual, dan tingkat interaktivitas secara terperinci, kata dia, masih diperlukan konfirmasi terhadap spesifikasi perangkat yang digunakan.
“Pada prinsipnya, kami memandang teknologi digital sebagai sarana pendukung untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pengalaman berkunjung ke museum,” ungkap Sri.
Dia pun menegaskan teknologi bukan untuk menggantikan keberadaan koleksi asli, melainkan untuk memperkaya cara penyampaian informasi, meningkatkan daya tarik museum, serta menjadikan pembelajaran sejarah, seni, dan budaya lebih menyenangkan, khususnya bagi generasi muda.
Baca juga: Pemprov DKI dekatkan museum ke ruang publik lewat pameran hutan
Baca juga: Pemerintah dukung pewarisan pengetahuan dan keterampilan membatik
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Lia Wanadriani Santosa
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira