Jakarta (ANTARA) - Pemerintah meluncurkan Program Pesantren Bebas Tuberkulosis (TB) secara nasional yang menjadi langkah strategis untuk memperkuat pencegahan dan penanggulangan TB sekaligus memastikan para santri mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak.

“Ada 40 ribu lebih pesantren dengan jutaan santri di seluruh Indonesia. Santri juga memiliki hak yang sama dalam kesehatan. Ini sejalan dengan cita-cita mulia Presiden Prabowo melalui Asta Cita keempat,” ujar Wakil Menteri Agama (Wamenag), Romo Muhammad Syafi'i dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Peluncuran program dipusatkan di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Baca juga: Pondok pesantren di Jateng disasar untuk pencegahan tuberkulosis

Romo Syafi'i mengatakan program Pesantren Bebas TB merupakan wujud sinergi pemerintah dalam memperluas deteksi dini, pencegahan, dan penanganan tuberkulosis di lingkungan pesantren.

Menurutnya, lebih dari 40 ribu pesantren dengan jutaan santri di seluruh Indonesia membutuhkan perhatian serius dalam aspek kesehatan. Para santri memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik sebagaimana masyarakat lainnya.

Ia menjelaskan pelaksanaan program ini diintegrasikan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi santri agar pemeriksaan kesehatan dapat menjangkau lebih banyak warga pesantren.

Wamenag menegaskan keberhasilan program pemerintah membutuhkan kerja bersama dan kolaborasi lintas kementerian. Tidak ada satu kementerian pun yang dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan agenda pembangunan, termasuk membangun pesantren yang sehat.

“Tidak ada keberhasilan yang dicapai sendiri-sendiri. Tidak boleh ada kementerian yang bekerja sendiri-sendiri. Kita ini satu tim. Tidak ada keberhasilan individual, yang ada adalah keberhasilan bersama,” kata dia.

Baca juga: Kemenkes perluas cakupan skrining TB gratis hingga ke pondok pesantren

Ia menjelaskan Kementerian Agama berperan dalam pembinaan pesantren, sementara dukungan obat-obatan, tenaga kesehatan, dan tenaga ahli melibatkan Kementerian Kesehatan serta kementerian terkait lainnya.

Wamenag juga menyampaikan bahwa setelah peluncuran di Sumatera Utara, gerakan ini direncanakan berlanjut ke sejumlah daerah, antara lain Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga DKI Jakarta.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin Paulus Octavianus menyatakan kesiapan Kementerian Kesehatan untuk mendukung penuh pelaksanaan Program Pesantren Bebas TB.

Menurutnya, santri berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, termasuk pemeriksaan, deteksi dini, dan penanganan tuberkulosis.

Dukungan tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Kementerian Kesehatan akan terus bersinergi dengan Kementerian Agama dan kementerian terkait untuk memastikan program berjalan efektif dan menjangkau lingkungan pesantren.

Baca juga: Kemenag: Program Pesantren Bebas TBC terintegrasi dengan layanan CKG

Baca juga: Ratusan santri pondok pesantren di Jakbar ikuti CKG

Direktur Jenderal Pesantren, Basnang Said memaparkan kesehatan masih menjadi tantangan kompleks di lingkungan pesantren. Dari sekitar 40 ribu pesantren di Indonesia, belum banyak yang memiliki klinik atau poliklinik dengan dukungan tenaga medis profesional.

Karena itu, ia mendorong kolaborasi lintas kementerian untuk memperkuat fasilitas kesehatan, mengadakan penyuluhan rutin dengan melibatkan puskesmas, serta memastikan santri memperoleh pelayanan medis tanpa terkendala persoalan domisili.

Menurutnya, santri yang sakit harus mendapatkan penanganan secara cepat dan tepat agar tidak berisiko mengalami keterlambatan pengobatan maupun menularkan penyakit kepada orang lain.

“Dari Pondok Pesantren Mawaridussalam ini kita memulai ikhtiar yang bermakna bagi masa depan pesantren. Semoga semangat dan komitmen pemerintah untuk mewujudkan pesantren yang sehat dan bebas tuberkulosis dapat menyebar ke seluruh penjuru Nusantara,” kata dia.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Asep Firmansyah

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira