Jakarta (ANTARA) - Pemerintah tengah mengkaji pembangunan smelter ke depan, apakah hanya menghasilkan produk antara atau diarahkan hingga ke produk akhir.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, mengatakan saat ini mayoritas produk industri hilirisasi atau smelter, baru berada di tahap setengah jadi.
"Saya katakan kepada teman-teman pengusaha, industri hilirisasi kita sekarang masih mayoritas produknya itu baru di tengah, baru di 50-60 persen. (Smelter) ini membludak sekarang," kata Bahlil saat membuka ajang Mineral dan Batubara Convention Expo (Minerba Convex) 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Oleh karena itu, Bahlil mengatakan pemerintah menimbang apakah smelter yang produknya hanya setengah jadi masih memungkinkan dibangun, atau perlu diatur lebih lanjut.
"Yang perlu kita dorong adalah produk akhirnya, supaya bahan baku setengah jadi tidak semuanya diekspor ke luar. Jadi, Indonesia ini benar-benar mendapatkan manfaatnya secara utuh. Ini yang sekarang kita lagi mau kaji," ujarnya.
Bahlil menuturkan pada 2017-2019, nilai ekspor nikel Indonesia hanya 3,3 miliar dolar AS.
Setelah pemerintah menyetop ekspor nikel dan membangun industri pengolahan di dalam negeri, nilai ekspornya melonjak menjadi 34 miliar dolar AS.
Menurut Bahlil, kunci keberhasilan itu adalah konsistensi kebijakan.
Ia mencontohkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang kini terintegrasi dari tambang, smelter, prekursor, katoda, hingga baterai.
Bahlil menyebut gagasan tersebut sempat diragukan saat disampaikannya pada 2020.
Kini, Amerika Serikat sudah mendapatkan bahan baku prekursor dan katoda dari Indonesia.
Indonesia juga telah memiliki tiga pabrik baterai, termasuk pabrik di Karawang, Jawa Barat, yang diresmikan pada 2024.
Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menambahkan langkah berikutnya adalah memperdalam rantai industri menuju produk dengan nilai tambah yang semakin tinggi, termasuk bahan antara dan komponen untuk industri baterai.
Kajian ini menjadi penanda arah hilirisasi tahap berikutnya.
Pemerintah ingin memastikan mineral yang diolah di dalam negeri tidak berhenti sebagai bahan setengah jadi, tetapi berlanjut menjadi produk akhir yang memberi nilai tambah lebih besar bagi Indonesia.
Baca juga: ESDM perhatikan keseimbangan smelter alumina dengan permintaan global
Baca juga: IMEW: Pengoperasian kembali 2 smelter PTFI perkuat hilirisasi mineral
Baca juga: Menteri Bahlil buka opsi moratorium smelter nikel setengah jadi
Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Kelik Dewanto
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira