Penguatan kapasitas sumber daya manusia serta pemanfaatan teknologi komputasi menjadi bagian penting untuk mempercepat pengembangan riset di bidang tersebut

Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Fauzan Adziman, mendorong penguatan hilirisasi riset genomik dan bioteknologi agar mampu menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Dirjen Fauzan menekankan pengembangan riset perlu dimulai dari identifikasi permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat, industri, maupun pemerintah. Pendekatan berbasis masalah tersebut diharapkan dapat membantu peneliti merancang solusi yang relevan, memiliki nilai tambah, dan berpotensi dikembangkan menjadi produk atau usaha berbasis teknologi.

"Riset tidak dapat berhenti pada publikasi ilmiah atau pengembangan prototipe. Diperlukan proses berkelanjutan yang menghubungkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pengembangan produk, pemenuhan regulasi, akses pasar, hingga komersialisasi," katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Fauzan menilai proses itu membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar hasil penelitian dapat diadopsi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia menyoroti potensi genomik, bioteknologi, dan bioinformatika dalam mendukung pengembangan inovasi di Indonesia. Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan solusi di bidang kesehatan, pangan, dan industri.

"Penguatan kapasitas sumber daya manusia serta pemanfaatan teknologi komputasi menjadi bagian penting untuk mempercepat pengembangan riset di bidang tersebut," ujarnya.

Lebih lanjut, Fauzan menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam membangun ekosistem hilirisasi. Perguruan tinggi perlu memperkuat keterhubungan antara kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengembangan, sementara industri dan pemerintah dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan serta tantangan nyata yang perlu dijawab melalui riset dan inovasi.

Menurut dia, kolaborasi lintas disiplin juga diperlukan dalam proses komersialisasi. Pengembangan inovasi tidak hanya membutuhkan penguasaan sains dan teknologi, tetapi juga pemahaman mengenai regulasi, pemasaran, komunikasi, dan kebutuhan pengguna.

Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan dapat memiliki jalur pengembangan yang lebih jelas dan peluang pemanfaatan yang lebih luas.

Baca juga: Kemdiktisaintek perkuat olah data mahasiswa lewat Satria Data

Baca juga: Aptisi-Kemdiktisaintek tamatkan AERLA guna perkuat keahlian rektor PTS

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Sean Filo Muhamad

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira