Jakarta (ANTARA) - DPP PDI Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga bersama Millennium Public Pulse 28 menggelar dialog antargenerasi guna memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda.
Forum itu menghadirkan Tom Lembong, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Saddam Permana, dan Gustika Jusuf Hatta, dimoderatori M. Syaeful Mujab, demikian keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.
Empat narasumber dari lintas generasi itu berbicara pada satu titik yang sama, yakni masa depan orang muda, khususnya Generasi Z, tidak bisa diselesaikan dengan kebijakan yang mengabaikan data dan pengalaman mereka sendiri. Dialog tersebut berlangsung pada Rabu (28/10).
Ahok menawarkan sisi lain, kepemimpinan yang mau mendengar. Ia menyebut seluruh permintaan dan pengaduan warga harus direspons, termasuk dengan cara yang santun.
Pengalamannya memimpin Jakarta, kata dia, memberi pelajaran bahwa kebijakan tanpa kajian dan dialog bisa merugikan warga.
Baca juga: Simpul Pemuda se-DKI Jakarta serukan jaga persatuan dan toleransi
Dia mencontohkan relokasi warga ke rumah susun yang justru mematikan usaha kecil dan merusak jejaring sosial antar-tetangga.
"Dulu kami pindahkan orang, kami berpikir untuk kebaikan dia, ternyata orang yang tinggal di gang-gang sempit itu dia bisa dagang," kata Ahok tentang kepemimpinannya di DKI Jakarta ketika itu.
Pelajaran itu, kata Ahok, membuatnya mengubah rancangan rumah susun agar menyediakan ruang usaha.
"Jadi kami harus jadi pejabat adalah administrator untuk mewujudkan keadilan sosial," ujarnya.
Peneliti Gustika Jusuf Hatta memulai dengan kritik soal data yang dikumpulkan susah payah tetapi tidak pernah dipakai.
"Banyak data yang dikumpulkan dengan banyak tenaga yang selalu disodorkan ke pembuat kebijakan tapi selalu kayanya nggak pernah dilihat," katanya.
Baca juga: Megawati sampaikan tiga pesan di Hari Sumpah Pemuda
Ia juga menolak orang muda diperlakukan sebagai satu kelompok seragam. Menurutnya, Generasi Z dan milenial punya persoalan berbeda, sementara akses terhadap teknologi belum merata.
Yang paling dia soroti adalah cara merespons sikap kritis: "Orang muda ketika kritis bukan hanya dibungkam tapi juga dikriminalisasi," tuturnya.
Gustika menyebut tekanan itu juga berlangsung di ruang digital, termasuk serangan terhadap orang muda yang bersuara. Ia mengingatkan bahwa di dalam kelompok orang muda terdapat beragam profesi — peneliti, dokter, petugas pemadam kebakaran, seniman, wirausaha — yang kebutuhannya tidak sama.
Dari sisi ekonomi, kreator konten Saddam Permana membongkar narasi bahwa Indonesia sedang baik-baik saja. "Orang yang beli iPhone itu tidak merepresentasikan seluruh ekonomi masyarakat Indonesia," ujarnya.
Ia memakai pelajaran kebutuhan primer untuk menjelaskan persoalan: saat kebakaran hutan dan lahan membuat seratus ribu orang terpapar infeksi saluran pernapasan akut, udara bersih adalah kebutuhan primer, sementara berlibur ke luar negeri bukan.
Baca juga: Sumpah Pemuda jadi momentum perkuat satukan tekad bangun Indonesia
Bagi Saddam, pendidikan adalah persoalan paling mendasar. "Pendidikan itu adalah dasar yang merupakan hak asasi manusia kita bersama," tegasnya, seraya menyebut anak-anak di Aceh dan Lombok yang terhambat bersekolah.
Sementara, Tom Lembong menilai generasi muda akan menghadapi tekanan terberat bila perekonomian goyah. Namun ia menolak berhenti pada pesimisme. Menurutnya, sejarah menunjukkan krisis kerap memicu reformasi yang menyelamatkan generasi berikutnya, seperti yang terjadi di sejumlah negara Eropa dan di Indonesia setelah 1998.
Dialog ini merupakan rangkaian peringatan Sumpah Pemuda yang digelar PDI Perjuangan. Millennium Public Pulse 28 dirintis sebagai ruang dialektika setiap tanggal 28, dan akan berlanjut hingga puncak satu abad Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2028. Bagi para narasumber, taruhannya jelas: apakah generasi muda hari ini mendapatkan ruang yang sama untuk menentukan masa depannya sendiri.
Baca juga: Kemendikdasmen ajak pemuda jaga eksistensi Bahasa Indonesia
Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Fianda Sjofjan Rassat
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira