Taiz, Yaman (ANTARA) - Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan kekurangan bahan bakar, oksigen, air, obat-obatan, produk darah, dan perlengkapan bedah semakin memburuk di seluruh Kegubernuran Taiz, sementara meningkatnya jumlah pasien trauma semakin membebani layanan kesehatan.

Di seluruh Yaman, fasilitas kesehatan terus menjadi sasaran. Sejak eskalasi dimulai pada Agustus, sebanyak 27 fasilitas kesehatan dan tujuh ambulans telah rusak atau hancur, sementara enam tenaga kesehatan tewas, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Di Kota Taiz, pusat perkotaan terbesar ketiga di negara itu, rumah sakit bergantung pada persediaan darurat karena stok bahan bakar, oksigen, darah, dan perlengkapan bedah semakin menipis.

Dana Kependudukan PBB (UNFPA) mengatakan bahwa jumlah persalinan di rumah sakit bersalin utama Kota Taiz telah berkurang setengahnya, dari sekitar 10 per hari menjadi lima per hari, dan jumlah inkubator yang tersedia untuk bayi prematur telah turun dari 40 menjadi 10 akibat kekurangan bahan bakar.

Meskipun kasus kolera telah menurun selama tiga pekan beruntun, terdapat lebih dari 22.500 kasus dugaan campak dan hampir 130 kematian. Anak-anak di bawah usia 5 tahun menyumbang empat dari lima kematian tersebut, kata OCHA.

Koordinator Bantuan Darurat PBB Tom Fletcher dalam sebuah pernyataan pada Senin (2/11) mengatakan bahwa warga sipil membayar harga yang sangat mahal atas konflik yang meningkat di Yaman, dengan hampir 300.000 orang mengungsi sejak awal Agustus ketika pertempuran terbaru pecah.

OCHA mengatakan bahwa mitra-mitra kemanusiaannya telah menjangkau hampir 260.000 orang, tetapi kebutuhan melampaui respons yang diberikan. Makanan, obat-obatan, dan persediaan lainnya siap untuk dikirim, tetapi jalan harus dibuka kembali agar barang-barang tersebut dapat masuk.

Fletcher juga menyatakan kemarahannya atas kematian rekan kerjanya di bidang hak asasi manusia PBB, Mohammad el-Shami, saat berada dalam tahanan Houthi.

Setidaknya 70 staf PBB dan puluhan pekerja kemanusiaan lainnya masih ditahan. Kepala bantuan PBB itu menuntut pembebasan mereka segera, seraya menekankan bahwa pekerja kemanusiaan merupakan warga sipil, bukan alat tawar-menawar.

PBB kembali menyerukan perlindungan warga sipil dan akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan, khususnya kepada komunitas yang semakin terisolasi akibat pertempuran.

Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Xinhua

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira