Jakarta (ANTARA) - Rapat Tahunan Tata Kelola Internet ke-87 (ICANN87) di Bali resmi meluncurkan nama domain tingkat dua (second-level domain) untuk Aksara Bali, Jawa, dan aksara berbasis Arab Nusantara, seperti Pegon, Jawi, dan Arab Melayu.
Meski nama domain beraksara Nusantara telah tersedia, ekosistem digital di Indonesia masih menghadapi tantangan teknis agar aksara tersebut dapat digunakan di berbagai aplikasi, situs web, dan sistem surat elektronik (email).
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, Ketua Kelompok Kerja Internationalized Domain Name (Pokja IDN) Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), Heru Nugroho, mengatakan Universal Acceptance (UA) merupakan kunci utama agar aksara dan bahasa dari berbagai negara mendapatkan posisi setara dalam ekosistem internet global.
Baca juga: Aksara Bali jadi alamat web perkuat identitas nusantara di era digital
"Tantangan ini sejalan dengan panduan kebijakan Universal Acceptance yang diterbitkan oleh UNESCO dan Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) pada awal 2026," kata Heru.
Dokumen tersebut menyoroti bahwa meski standar Internationalized Domain Names (IDN) dan Email Address Internationalization (EAI) sudah tersedia, banyak sistem digital saat ini yang belum mampu mengenali dan memproses domain multibahasa dengan baik.
Prinsip Universal Acceptance mendorong agar seluruh nama domain dan alamat email yang valid dari berbagai aksara dapat beroperasi tanpa hambatan teknis.
Baca juga: PANDI sebut aksara Jawa kini bisa menjadi nama domain internet
Menurut UNESCO, penerapan Universal Acceptance berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi digital lokal, memperluas akses layanan publik digital, serta menjaga keberlanjutan bahasa dan aksara tradisional agar tidak terpinggirkan di ruang digital.
Untuk mewujudkan internet yang inklusif, PANDI mendorong adanya kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah diharapkan mulai mewajibkan standar kepatuhan Universal Acceptance dalam pengadaan teknologi informasi layanan publik, pengembang sistem menjadikan UA sebagai standar dasar perangkat lunak, serta akademisi turut memperkuat edukasi literasi digital di tingkat lokal.
Baca juga: Kemenekraf bidik komersialisasi identitas budaya di ruang digital
Bagi Indonesia, pengembangan nama domain beraksara Nusantara merupakan bagian dari gerakan global untuk menghadirkan internet yang lebih inklusif.
Namun, Heru menilai keberhasilannya tidak cukup diukur dari kemampuan menampilkan aksara dalam nama domain, melainkan juga dari kesiapan aplikasi dan layanan digital untuk menggunakannya.
"Tanpa dukungan ekosistem digital yang inklusif, aksara tradisi berisiko semakin terpinggirkan," tandas dia.
Sebaliknya, Universal Acceptance membuka peluang bagi masyarakat untuk mempertahankan identitas budaya sekaligus berpartisipasi dalam kehidupan digital.
Menurut Heru, internet yang inklusif bukanlah internet yang menyeragamkan penggunanya, melainkan ruang digital yang memungkinkan setiap masyarakat terhubung dengan dunia tanpa kehilangan akar budayanya.
Baca juga: PANDI dan Pemprov Aceh bahas peluang aksara Jawi isi ruang digital
Baca juga: PANDI, FTII, dan ASPILUKI kembali gelar developerday.id
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Farhan Arda Nugraha
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira