Ramallah (ANTARA) - Militer Israel mengakhiri operasi militer selama 11 hari di kota Hebron, Tepi Barat bagian selatan, pada Senin (2/11), yang mengakibatkan kehancuran serta kerusakan luas pada bangunan tempat tinggal dan infrastruktur, menurut sumber-sumber Palestina.
Sumber-sumber tersebut mengatakan warga mulai kembali ke rumah mereka setelah mengungsi atas desakan militer Israel di awal operasi, yang dilancarkan menyusul serangan penembakan pada 23 Oktober yang menewaskan dua tentara Israel.
Puluhan kendaraan yang mengangkut keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak, beserta barang-barang mereka terlihat kembali ke wilayah-wilayah yang terdampak, dengan para warga membunyikan klakson mereka sebagai bentuk perayaan.
Rashid al-Ja'bari, yang mengenakan keffiyeh khas Palestina dan bersandar pada sebuah tongkat, mengatakan kepada Xinhua bahwa rumah-rumah yang hancur itu akan "dibangun kembali dari nol."
"Ini adalah tanah kami, dan kami tidak akan meninggalkannya, tidak peduli apa pun kehancuran dan kerusakan yang ditimbulkan oleh pendudukan Israel," ujarnya.
Gubernur Hebron Khaled Dudin mengonfirmasi penarikan pasukan Israel dari kota tersebut.
Dia juga menyebutkan bahwa pasukan keamanan Palestina telah mengambil alih kendali atas wilayah, desa, dan kota, sementara otoritas terkait sedang bekerja guna memastikan kembalinya warga dengan aman.
Menurut Pemerintah Kota Hebron, operasi Israel telah menyebabkan lebih dari 3.300 orang mengungsi atau terdampak.
Operasi itu juga mengakibatkan penghancuran 15 rumah dan struktur lainnya, kerusakan pada infrastruktur dan aktivitas ekonomi, serta gangguan pada kegiatan pendidikan.
Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Xinhua
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira