Jakarta (ANTARA) -
Menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari dapat membantu mendukung kesehatan jangka panjang, selain memenuhi kebutuhan durasi tidur yang cukup.
Pakar kesehatan dan umur panjang menjelaskan bahwa keteraturan waktu tidur berperan dalam menjaga ritme sirkadian, yakni jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun serta sejumlah fungsi tubuh lainnya.
Salah satu pendiri sekaligus CEO Rebalance Health dan penulis buku “STRESS NATION: Escape the Technology Trap, Eliminate Stress, and Reclaim Rest” Justin Hai mengatakan tubuh bekerja lebih baik ketika memiliki pola yang dapat diprediksi.
“Tubuh kita berkembang dengan keteraturan,” kata Hai, seperti dikutip Real Simple pada Selasa (27/10) waktu setempat.
Menurut dia, jam biologis membantu mengatur berbagai proses, mulai dari produksi hormon hingga metabolisme dan perbaikan sel. Perubahan waktu tidur yang terlalu sering dapat mengganggu ritme tersebut.
Baca juga: Asupan vitamin D dikaitkan dengan kualitas tidur
Hai juga merujuk penelitian yang menemukan bahwa keteraturan tidur menjadi prediktor risiko kematian yang lebih kuat dibandingkan durasi tidur saja. Namun, temuan tersebut tidak berarti seseorang dapat mengurangi waktu tidur selama jadwalnya tetap teratur.
Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Karena itu, menjaga konsistensi jadwal tidur perlu dilakukan bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan durasi tidur.
Jadwal tidur yang berubah-ubah, misalnya tidur larut pada hari kerja lalu bangun jauh lebih siang pada akhir pekan, dapat menimbulkan kondisi yang disebut social jet lag. Kondisi tersebut terjadi ketika jadwal aktivitas seseorang tidak selaras dengan jam biologis tubuh.
Ketidakteraturan tidur juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan kardiovaskular dan metabolik, termasuk masalah tekanan darah dan pengaturan gula darah.
Untuk membangun rutinitas yang lebih konsisten, Hai menyarankan agar seseorang memulai dengan menetapkan waktu bangun yang realistis. Mendapatkan paparan cahaya alami pada pagi hari juga dapat membantu menyelaraskan jam biologis.
Selain itu, seseorang dapat menyediakan waktu sekitar 30 menit sebelum tidur untuk melakukan aktivitas yang menenangkan, seperti membaca buku atau mandi air hangat. Membatasi konsumsi kafein menjelang malam dan mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur juga dapat membantu.
Hai mengingatkan bahwa keteraturan tidur tidak harus diterapkan secara kaku. Jika sesekali tidur lebih larut, seseorang tetap perlu mengutamakan kebutuhan istirahat yang cukup dan kembali ke rutinitas normal setelahnya.
Baca juga: Makan sebelum tidur bisa picu kenaikan gula darah
Baca juga: Studi: Makan kacang kenari bantu tidur jadi lebih cepat
Baca juga: Sering sulit tidur? Kenali 6 penyebab insomnia ini
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Farika Nur Khotimah
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira