Jakarta (ANTARA) - Pakar gizi dan pakar kesehatan jiwa mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah tekanan ekonomi, termasuk ketika harus menyesuaikan kemampuan membeli bahan makanan.

Dokter spesialis gizi klinik di Rumah Sakit Siloam Simatupang dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, saat peluncuran kampanye “Hidup Lebih Ringan” & Diskusi Media: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental di Jakarta, Kamis, mengatakan, pengaturan pola makan tidak hanya bergantung kepada jenis makanan, tetapi juga jumlah atau porsi serta jadwal konsumsi agar kebutuhan nutrisi tubuh tetap terpenuhi.

“Tentang pola makan, kita harus membuat komposisi antara karbohidrat, protein, lemak, dan serat dalam satu kali makan secara proporsional atau seimbang,” kata Christopher.

Baca juga: Survei: Kesadaran gaya hidup sehat belum diikuti konsistensi

Masyarakat dapat menerapkan prinsip pembagian piring makan, yakni seperempat untuk karbohidrat, seperempat untuk protein, dan setengahnya untuk sayuran serta buah. Prinsip tersebut dapat diterapkan dengan memilih bahan pangan yang lebih terjangkau, seperti nasi, telur, tahu, tempe, dan sayuran lokal.

Sebagai contoh, menu sarapan dapat berupa nasi dengan telur rebus dan sayuran, makan siang berupa nasi dengan tempe atau tahu serta sayuran, sedangkan makan malam dapat menggunakan ubi rebus dengan telur dan sayuran. Christopher mengingatkan jenis dan porsi makanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi serta kondisi masing-masing individu.

Selain pemenuhan gizi, kondisi psikologis juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi perilaku makan seseorang. Dokter spesialis kesehatan jiwa di Eka Hospital BSD dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, mengatakan, kebiasaan makan dalam jumlah besar tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai binge eating disorder (BED).

“Yang kita sebut disorder atau penyakit mental itu harus memiliki dua karakteristik, yaitu menyebabkan gangguan fungsi sehari-hari dan menyebabkan penderitaan bagi dirinya atau orang-orang di sekitarnya,” ujar Putri.

Putri menjelaskan, BED perlu dibedakan dari kebiasaan memiliki nafsu makan besar karena gangguan tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perubahan perilaku makan yang menimbulkan penderitaan atau mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian profesional.

Dengan demikian, penyesuaian pola konsumsi di tengah keterbatasan ekonomi perlu tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi, sementara kesehatan mental juga perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Baca juga: Keteraturan aktivitas berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik

Baca juga: Survei: Gen Z dan Milenial Indonesia kian sadar kesehatan holistik

Baca juga: Berat badan berlebih dikaitkan dengan risiko osteoartritis lutut

Pewarta: Ida Nurcahyani/Vina Ashari
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Ida Nurcahyani/Vina Ashari

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira