Anak-anak yang tumbuh tanpa keharmonisan keluarga cenderung lebih mudah untuk kehilangan arah atau pegangan hidup

Jakarta (ANTARA) - Pakar Pendidikan Ki Darmaningtyas menyebut penguatan ketahanan keluarga dan edukasi publik secara berkesinambungan menjadi kunci utama dalam mencegah meningkatnya ancaman intoleransi, radikalisme, serta aksi main hakim sendiri (vigilantisme) di kalangan generasi muda saat ini.

Menurut dia, fenomena maraknya kekerasan dan aksi destruktif di ruang publik yang cepat viral di media sosial tidak lepas dari derasnya arus informasi digital dan tergerusnya relasi sosial dasar.

“Anak-anak yang tumbuh tanpa keharmonisan keluarga cenderung lebih mudah untuk kehilangan arah atau pegangan hidup,” kata Darmaningtyas dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Baca juga: BNPT: Penyebar paham radikal bertujuan ganggu visi Indonesia Emas 2045

Ia menjelaskan, akar dari masalah prilaku ekstrem remaja tersebut bermula dari rapuhnya fondasi di tingkat keluarga.

Pembentukan karakter anak, kata dia, didominasi oleh lingkungan keluarga sebesar 50 persen, disusul lingkungan sekolah 30 persen, dan pergaulan 20 persen.

Ketika lingkungan keluarga rapuh dan anak mengalami krisis kasih sayang, kerentanan psikologis akan terbentuk sehingga luapan emosi cenderung dilampiaskan melalui tindakan kekerasan sepihak.

“Anak yang demikian kemudian mengalami kegelisahan di dalam bersikap dan bertindak, dan itu secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku mereka,” ujarnya.

Selain masalah pengasuhan di rumah, penyebaran paham radikalisme dan aksi vigilantisme di era digital semakin diperparah oleh obsesi anak muda terhadap perhatian instan di media sosial.

Baca juga: Kepala BNPT ingatkan radikalisasi daring sasar remaja hingga perempuan

Tindakan anarkis kerap disalahartikan sebagai sarana mengangkat eksistensi diri agar populer atau viral. Fenomena pamer perilaku menyimpang tersebut, lanjut dia, membuat pelaku merasa puas karena obsesi emosionalnya untuk mendapat atensi publik telah terpenuhi.

Terkait upaya penanggulangan radikalisme dari pihak pemerintah, khususnya melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Darmaningtyas menegaskan bahwa pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan penyuluhan sesekali. Diperlukan edukasi publik yang konsisten serta pendekatan dialogis yang mendalam, terutama dalam merendam pandangan keagamaan yang sempit di kalangan remaja.

“Kalau sudah menyangkut pandangan yang sempit dalam hal keagamaan, penyuluhan harus dilakukan secara terus-menerus melalui edukasi, dialog, dan adu argumen sampai orang itu punya kesadaran bahwa dirinya keliru, meskipun itu memerlukan waktu, energi, dan biaya yang besar,” katanya menegaskan.

Ia mengimbau, para orang tua untuk kembali mengambil peran edukasi secara langsung di rumah. Ketergantungan pada gawai perlu dibatasi agar tidak merenggangkan relasi emosional keluarga serta merusak psikologis anak.

“Keluarga harus menjaga keutuhan dan menghindari pola asuh yang menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada HP, karena hal tidak hanya merusak relasi dan saraf anak, melainkan juga melahirkan generasi yang rentan terpapar paham radikalisme di masa depan,” ungkap Dharmaningtyas.

Baca juga: BNPT: Pelibatan pemuda efektif cegah radikalisasi di kalangan remaja

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Laily Rahmawaty

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira