Sebagian besar dukungan (pertumbuhan ekonomi pada tahun ini) berasal dari sisi permintaan domestik

Jakarta (ANTARA) - Chief Economist & Head OCBC Group Research, Selena Ling, menyatakan bahwa pihaknya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada tahun 2026.

“Sebagian besar dukungan (pertumbuhan ekonomi pada tahun ini) berasal dari sisi permintaan domestik,” ucapnya dalam OCBC Outlook - ASEAN Opportunity: Business Growth & Wealth Expansion di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, ketahanan ekonomi Indonesia yang ditopang kuatnya permintaan domestik memberikan landasan bagi prospek jangka menengah yang positif dengan proyeksi di kisaran 5 persen.

Investasi dan konsumsi rumah tangga disebut menjadi pilar utama perekonomian, yang tercermin antara lain dari pertumbuhan investasi sebesar 6,9 persen year on year (yoy) pada kuartal II-2026.

Momentum itu diperkuat alokasi belanja infrastruktur, investasi sektor swasta, hingga dukungan fiskal, serta kondisi pasar tenaga kerja yang stabil dengan tingkat pengangguran berada di level 4,65 persen pada Mei 2026.

Kendati demikian, kekuatan ekonomi domestik dihadapkan pada adanya peningkatan risiko eksternal, seperti volatilitas harga energi global akibat konflik geopolitik di Asia Barat/Timur Tengah dan pengetatan kebijakan moneter di berbagai bank sentral yang berpengaruh di dunia.

Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS)-Iran atau Rusia-Ukraina, dinilai berpotensi membuat biaya energi, transportasi, dan logistik tetap tinggi, yang pada gilirannya memperkuat tekanan inflasi dari barang impor.

Di saat yang sama, ketidakpastian perdagangan global yang diperberat penerapan tarif impor oleh AS dan potensi tarif dagang susulan, terus membayangi pasar internasional.

Kemudian, tantangan lainnya berasal dari potensi bank sentral AS/Federal Reserve (The Fed) mempertahankan sikap yang relatif ketat (hawkish) seiring konsensus pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Desember 2026.

“Menurut kami, seiring dengan stabilnya harga energi, ada kemungkinan Amerika Serikat akan memasuki masa jeda yang berkepanjangan setelah kenaikan suku bunga di bulan Desember. Namun, mereka akan tetap sangat waspada terhadap tekanan inflasi,” ungkap Selena Ling.

Di tingkat domestik sendiri, inflasi Indonesia dinyatakan masih terjaga dengan baik dalam rentang sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5-3,5 persen. Walaupun begitu, risiko dari sisi penawaran selagi adanya gejolak harga pangan akibat dampak cuaca El-Nino, disebut tetap memerlukan pengawasan ketat karena berpotensi mempengaruhi biaya hidup masyarakat dan keyakinan pelaku usaha.

Untuk menjaga kelanjutan ekspansi ekonomi, dia menganggap prioritas kebijakan harus fokus pada pemenuhan ketersediaan pangan, penyediaan akses pembiayaan yang memadai bagi sektor produktif, serta percepatan eksekusi rencana investasi menjadi kapasitas produksi operasional riil.

Dengan demikian, maka terdapat peluang yang sangat luas di pasar konsumen Indonesia, meliputi sektor ritel, layanan kesehatan, hingga layanan digital. Tingginya minat investor pada sektor manufaktur dan aktivitas hilirisasi industri dinilai mendorong lonjakan permintaan terhadap fasilitas industri, jaringan logistik, perdagangan dan pembayaran digital, hingga pasokan listrik yang handal, termasuk energi terbarukan.

“Kami memandang semua ini sebagai bidang peluang yang saling melengkapi, (dan) membantu para investor menangkap pertumbuhan Indonesia, sekaligus berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan partisipasi yang lebih mendalam dalam rantai pasok ASEAN,” kata Chief Economist & Head OCBC Group Research.

Baca juga: OCBC menyoroti peluang diversifikasi investasi bagi nasabah affluent

Baca juga: OCBC ajak anak muda tetapkan tujuan keuangan untuk kesehatan finansial

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · M Baqir Idrus Alatas

At a glance

Topic
World
Country
đŸ‡źđŸ‡© ID
Publisher language
ID
Added to Allnira